© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Kolaborasi 50 Seniman Lintas Disiplin

1 Nov 2017

Ada yang menarik perhatian ketika datang ke ajang Indonesia Contemporary Art and Design (ICAD) 2017. Ialah karya instalasi milik sutradara Teddy Soeriaatmadja yang bentuk ruang kamar tidur. Teddy mengatakan karya berjudul 'A Place for Us to Dream' merupakan simbol hubungan timbal balik antar manusia.  

“Lewat karya instalasi ini, pengunjung bisa lihat bagaimana hubungan manusia ketika berada di dalam kamar tidur,” tutur Teddy.

Di samping karya seni instalasi tersebut terdapat penjelasan, "Kemurnian hubungan menentukan bagaimana kita melihat kebersamaan. Bersama tidak berarti anda memiliki harapan dan mimpi yang sama. Terkadang hanya berarti bersama.” Di sisi kanan dan kiri tempat tidur, terdapat meja yang di atasnya ada Al Quran, tasbih, telepon genggam. Tapi ada juga buku karya Paulo Coelho berjudul 'Adultery'.

Nama Teddy hadir sebagai special apperance bersama dengan Darbotz, Gianni Fajri, Motulz, dan Reza Rahadian. Dalam karya 'A Place for Us to Dream' menampilkan tempat tidur dengan selimut yang setengah terbuka. Teddy sengaja membuat dua lengkung yang bekas ditiduri manusia. Namun, keduanya nampak membalikkan badan.  

Tahun ini merupakan yang ke delapan penyelenggaraan ICAD.yang dimotori oleh Yayasan Design+Art Indonesia. ICAD menghadirkan 50 seniman Tanah Air dengan mengusung tema 'MURNI?'. Bertempat di grandkemang Jakarta, ICAD bakal berlangsung selama enam minggu penuh mulai 4 Oktober sampai 15 November 2017. 


Direktur Festival Diana Nazir mengatakan sejak awal penyelenggaraan ICAD menjadi ajang kolaborasi berbagai lintas disiplin di dunia kreatif. “Salah satu misi ICAD adalah menjadikan seni dan desain lebih dekat dan relevan bagi masyarakat. Dan kami ingin ICAD lebih menginspirasi,” kata Diana Nazir.  

Kurator pameran Harry Purwanto menambahkan tema 'MURNI?' merespons wacana baru yang berkaitan erat antara hubungan pribadi dan manusia. “Wacana soal murni yang dibilang seni terapan tapi murni yang ingin didiskusikan di sini bukan persoalan akademia saja tapi kembali pada diri seniman sendiri untuk mempertanyakan apa itu murni,” tutur Harry.

Seniman yang berpartisiasi di antaranya adalah Abie Abdillah, Adi Indra Hadiwidjaja, Alit Ambara, Amanda Mitsuri, Antonio S.Sinaga, Argya Dhyaksa, Darbotz, Gianni Fajri, Erwin Windu Pranata, The Popo, Hendra HEHE, Luthfi Hasan, Oky Rey Montha, Mice Mirsad, Motulz, Reza Rahadian, Patriot Mukmin, Reza Afisina, Ucup Baik, Syaiful Garibaldi, Wedhar Riyadi, dan lain-lain.  

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU