© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Pesan Sufistik dalam Sketsa Romo Mudji

9 Nov 2017

Romo Mudji Sutrisno atau yang biasa dikenal publik dengan panggilan Romo Mudji bukan hanya seorang rohaniwan katolik biasa. Ia pernah telibat dalam aktivitas sosial dan kelembaganegaraan. Namun yang paling kental dari dirinya adalah gaya berkesenian yang luar biasa.

Romo Mudji telaten dalam berkarya, di bidang seni tari maupun seni rupa. Nah, untuk kata terakhir tadi, sang imam ini baru saja menggelar pameran sketsanya. Romo Mudji memang dikenal sebagai pembuat sketsa yang handal. Di gelar di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pameran bertajuk Kumandang Ing Sepi dibuka bagi publik. 

Di pameran ini, pengunjung bakal disuguhkan karya-karya sketsa Romo Muji yang apik dan penuh dengan filosofis. Total ada 30 karya sketsa yang dipamerkan. Sebagian besar sketsa bercerita tentang toleransi dan pesan-pesan sufistik.

Pesan-pesan itu terwakili pada gambar bangunan katedral, masjid, dan candi. Misalnya, karya berjudul Candi Apit Rorojongrang, Mudji menggambar candi dengan garis-garis sederhana. Terlihat seperti coretan, tetapi membentuk citra bangunan candi itu.

Namun, ada empat karya yang cukup menggugah karena Romo menggambar sosok seperti Yesus dengan beberapa goresan. Satu gambar, terlihat seperti Yesus yang disalib. Gambar lainnya, memperlihatkan seolah wajah Yesus. 


“Sketsa bagi saya itu adalah lukisan itu sendiri, mengapa? Pertama, karena sketsa itu jujur, tulus, polos tidak digincu dengan warna-warni. Tarikan garis-garis sketsa dan eksperesi jemari langsung dibuat dengan hati dan tanpa didahulu pensil,” ujarnya.

Mudji mengungkapkan karya-karya itu dibuat secara langsung. Dia tidak membuat gambar awalnya, tetapi langsung menggambar apa yang ada di pikirannya. Bahkan, dia tidak mengkoreksi sketsa-sketsanya. Namun membiarkannya mengalir. “Saya langsung mengekspresikan saja,” tuturnya. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU