© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Cara Perupa Nano Warsono Melukiskan Sejarah Nusantara

14 Nov 2017

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menapak tilas perjalanan nusantara ini. Nano Warsono, seorang perupa memilih dengan membuka pameran tunggal bertajuk Rheco: Membuka Tabir Peradaban Nusantara di Galeri Nasional, Jakarta. Untuk mengetahui sejarah peradaban Nusantara, dia melalui jalan metafisik.

Nano dan timnya menyusuri situs-situs 'sejarah'. Bisa berarti mitos, legenda, atau semacam folklore untuk mendapatkan data dan fakta berupa kisah-kisah yang dituturkan oleh para pelaku dan perawat situs. “Ia ulang-alik dari situs ke sejumlah orang dan kembali ke situs, dari situs ke kanvas, dan begitu seterusnya,” kata kurator pameran, Bambang ‘Toko’ Witjaksono.

Nano melukiskan keadaan dunia, kondisi yang dihuni manusia, dan lebih fokus terhadap suatu daerah. Misalnya Gunung Muria dan sekitarnya daerah Jepara, Pati, Kudus, hingga melear ke wilayah Pulau Jawa, dan lain-lain. Gunung Muria dianggap sebagai titik mula sejarah di Pulau Jawa.

Alasan kedua adalah karena Nano berasal dari Kecamatan Sukodono, Jepara, yang notabene adalah bagian dari sejarah panjang peradaban Jepara atau Gunung Muria, sehingga proses berkaryanya ini sebenarnya hanya bagian kecil dari proses untuk mengetahui sejarah atau garis leluhur nenek moyangnya.

Semua ada 17 lukisan yang tersaji di pameran tunggal itu. Pada dinding dekat pintu masuk dipasang peta geografis Gunung Muria dan wilayah sekitarnya (Jepang, Kudus, dan Pati). Lukisan-lukisannya pun dibagi ke dalam empat topik yakni sejarah situs di seputaran Gunung Muria, sejarah di luar wilayah Gunung Muria, kisah tokoh atau trah dari Kerajaan yang ada di Jawa, dan penggambaran simbol benda atau binatang.

“Apa yang dilakukan oleh Nano Warsono lewat pameran ini, sebenarnya adalah proses untuk menguak simbol-simbol atau sandi pada dasarnya adalah proses mengulik sejarah yang tidak tersejarahkan,” pungkasnya. 

Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus Sukmana mengatakan, dalam keterangan tertulis, Nano Warsono telah mencoba sejumlah medium karya rupa, di antaranya dari komik, mural serta patung. “Melalui pameran ini, diharapkan mampu menghadirkan visualisasi elemen estetik yang menarik sekaligus membawa nilai-nilai sejarah dan budaya Indonesia yang edukatif,” kata Tubagus Sukmana.

Nano Warsono yang aktif sebagai pengajar seni murni, peneliti dan penulis dinilai dapat memberikan pengaruh ekspresi yang berwarna-warni terhadap pameran yang menyoal seputar kemanusiaan, identitas dan nasionalisme.

Tubagus menuturkan tema "Rheco, Membuka Tabir Peradaban Nusantara" bukan hanya hasil imajinatif Nano, melainkan berangkat dari penelitiannya terhadap teks, referensi dan literatur. Selain itu, perhelatan itu juga menjadi penanda eksistensi dan pencapaian artistik seorang Nano Warsono.

“Inilah yang membuat karya-karya dalam pameran Rheco menjadi berbobot, kaya teks dan konteks yang memancing beragam interpretasi kritis, serta menjadi suatu suguhan segar dalam visualisasi karya rupa,” ucap Tubagus. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU