© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Kolaborasi Arsitektur Indonesia-Jepang untuk Rumah Huni Publik

13 Nov 2017

Jepang, negeri Matahari Terbit itu bukan hanya dikenal dengan kemajuan teknologi dan perekonomiannya, ia juga memiliki kekuatan lain yang menjadi kiblat beberapa negara; arsitektur. Bagi mereka arsitektur tak hanya wajib menawarkan estetika dan fungsional namun juga harus memiliki karakter berkelanjutan.

Pesan itulah yang ingin disampaikan dalam acara The Indonesia-Japan Architecture 2017 di Jakarta. Atas dukungan dan kerjasama Ikatan Arsitektur Indonesia(IAI). Agenda tersebut merupakan kelanjutan dari forum arsitektur urban di kawasan Asia. Pada penyelenggaraan sebelumnya, kota Ho Chi Minh menjadi tuan rumah.

Pada penyelenggaraan ke empat Jakarta dipilih sebagai pusat kegiatan forum. Tentu saja acara ini dihadiri sejumlah arsitek ternama dari Indonesia dan Jepang. Salah satu arsitek yang hadir adalah Ridwan Kamil atau biasa Kang Emil. Walikota Bandung itu memang dikenal sebagai arsitek handal sebelum menjabat sebagai orang nomor satu di kota Bandung.

Salah satu desainnya yang terkenal adalah museum Tsunami di Banda Aceh. Dalam kesempatan tersebut Ridwan berbicara lebih menekankan bagaimana dirinya mengelola kota dari kacamata arsitek menjadikan kota yang lebih manusiawi, dengan dibangunnya berbagai infrastruktur mempermudah interaksi antar manusia secara langsung.

“Saya diundang di sini tidak bicara tentang kecanggihan yang bagaimanapun kita kalah, namun tentang kemanusiaan bagaimana bagunan arsitektur itu memberikan nilai tambah bagaimana kota menjadi lebih manusiawi,” ujar Kang Emil.

Menurutnya seorang arsitek sebaiknya tidak terjebak dan terpukau oleh hal-hal yang mewah yang tampak namun pada dasarnya membuat warga kota menjadi teralienasi. “Saya tidak mau terjadi di Kota Bandung dan kebetulan saya Walikota saya membuat peraturan perilaku yang membuat di Bandung ini lebih manusiawi, bukan arsitektur yang mengasingkan namun arsitektur yang memanusiakan.”

Ridwan Kamil mengatakan, sebuah kota harus terus lebih maju tanpa melupakan keseimbangan antara aspek infrastruktur, kemanusiaan, dan budaya. Jepang bisa menjadi salah satu contoh dimana negara menyediakan gaya arsitektur dan teknologi yang maju.

Selain Ridwan Kamil, aristek yang mencuri perhatian, tokoh arsitek Jepang, Toyo Ito menjadi narasumber dalam forum tersebut. Hadir pula Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Ahmad Djuhara, Pengusaha Nasional Rachmat Gobel serta arsitek dari dalam dan luar negeri. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU