© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Yuswantoro, Konsisten dalam Nyinyir dan Filosofi Berkarya

15 Nov 2017

Banyak cara dilakukan perupa untuk melanggengkan memori publik akan sesuatu hal yang khas dan ikonik. Misalnya, ingatan soal karakter Charlie Chaplin yang identik dengan cara berjalan lucu nan kocak. Atau, ingatan akan sosok penyair legendaris Chairil Anwar yang langsung terkoneksi dengan puisi-puisi.

Yuswantoro Adi, seorang perupa senior Tanah Air menyuguhkan pelanggengan memori publik itu dalam pameran tunggal bertajuk ICONIC di Galeri Nasional Jakarta. Namun kali ini Yuswantoro Adi mengajak kita mempertanyakan kembali ingatan akan tokoh-tokoh ikonik dunia tersebut. Seolah ada cerita tersembunyi yang belum sempat “terbaca” karena kita disibukkan dengan fakta-fakta yang dibingkai media.

Pada salah satu karyanya Kembar Tiga, Yuswantoro menampilkan tiga ikon; Charlie Chaplin, Hitler dan Jojon yang ketiganya memiliki benang merah kumis “sikat gigi”. Cara Yuswantoro menempatkan ketiga ikon ini secara berdampingan adalah bentuk humor yang menyentil. Betapa tipisnya perbedaan kejeniusan dan jiwa psikopat bermukim dalam diri manusia.

Kemudian ada Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi yang cukup oksimoron. Mau hidup seribu tahun lagi tapi merokok? Dan Yuswantoro memperjelas kondisi tersebut dengan menempatkan tangan yang memegang rokok di bawah lukisan Chairil. Karya yang menyentil lainnya adalah Indonesia Continental yang mengandaikan jika Indonesia bukan sebagai negara kepulauan melainkan daratan. Apakah kita akan terberai oleh jarak juga?

Bukan hanya penuh sentilan tetapi penggalian data yang dalam membuat karya-karyanya tidak hanya artistik tetapi juga bernas. Inilah yang membuat Yuswantoro layak disebut konsisten dalam memberikan nyinyiran dan sentilan pada sesuatu ingatan publik.

Konsisten karena Yuswantoro masih seperti 21 tahun lalu. Ya, cobalah bandingkan karya The Beach of Susi dengan Masterpiece of Indonesia. Yuswantoro melakukan riset khusus untuk nama-nama terumbu karang yang ditampilkannya dalam lukisan. Sama halnya yang ia lakukan ketika membuat karya lawasna, tidak ada yang bisa melupakan detail luar biasa dari uang Indonesia yang terlukis dalam karya yang memenangkan Grand Prize Winner Phillip Morris Asean Art Award di Manila, Philipina 1997 tersebut. 

Total ada 20 karya yang dipamerkan berikut puluhan karya lukis anak-anak yang menjadi anak didik Yuswantoro di Art For Children (AFC) selama 10 tahun terakhir. Artefak karya anak-anak ini bisa menjadi representasi atas meluasnya kerja kreatif Yuswantoro Adi, yang tidak saja berkutat dengan kesibukan personalnya, namun juga memberi kontribusi kepada perkembangan dunia seni rupa anak di Yogyakarta. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU