© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Ruang Refleksi Butet Kartaredjasa pada Objek Keramik

11 Dec 2017

Publik biasanya mengenal Butet Kartaredjasa sebagai tokoh teater atau monolog ulung. Namun kali ini, Butet tampil dengan bentuk seni berbeda, seni rupa keramik yang ia pamerkan dalam pameran tunggal bertajuk Goro-goro: Bhinneka Keramik di Galeri Nasional, Jakarta.

Dia mengaku ini pertama kalinya dia belajar melukis di atas keramik. “Ini berbeda dengan studi seni keramik yang mempelajari tanah, pembakaran, eksperimen kekeramikan secara teknis, meriset bahan baku. Saya tidak ke situ,” ujarnya. 

Butet mengatakan, ia hanya menggunakan keramik sebagai pengganti kanvas dan mengikuti tahapan terciptanya warna. Karya-karya yang dipamerkan dibuat oleh Butet dalam waktu tiga tahun terakhir, di antaranya berupa lukisan di atas keramik berbentuk persegi, oval, piring, lempengan tak beraturan, dan kolase potongan keramik.

Patung keramik, batu bata dari bangunan kota lama Semarang serta instalasi seni berupa bingkai pintu kayu juga turut dipamerkan. Sejumlah karya penuh warna itu merupakan kritik pegiat seni teater itu atas masalah politik, sosial, budaya dan agama serta pandangan mengenai tokoh besar seperti Gus Dur, Jokowi, Buddha, dan Yesus. 

“Tukang kritik untuk saling mengingatkan, tidak mengkritik untuk memberi solusi. Akal sehat tidak mungkin membiarkan kebrengsekan berlangsung dan diamini semua orang,” kata dia. Menurutnya, kritik dalam seni budaya adalah bagian penting dari kreativitas, bahkan jika sikap kritikal hilang, maka kreativas pun demikian.

Kurator pameran Wicaksono Adi menilai, Butet menjadikan objek untuk membuka ruang refleksi atau kontemplasi diri agar dirinya dan orang lain dapat memandang kehidupan secara wajar, rileks, dan tidak hitam putih. “Ini personal melihat sesuatu lebih intim. Butet melihat sesuatu ada dimensi lain, bisa begini juga bukan mengkritik terus. Lebih reflektif. Bagaimana seniman pada dirinya,” ucap dia. 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU