© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Kisah Perupa Mooi Indië, Pendatang yang Tak Tertendang

27 Dec 2017

Dalam dunia seni rupa terdapat istilah umum, pendatang, yang dipahami sebagai pegiat seni rupa dari luar kawasan. Maksudnya, mereka yang aktif melukis dan mematung namun tidak memiliki latar belakang pendidikan kesenian atau bukan seorang kolektor. Kebanyakan dari mereka tidak bertahan lama sebelum akhirnya tertendang dengan sendirinya.


Salah satu faktornya adalah stigma sebagai Mooi Indië (Hindia molek). Ia merupakan aliran lukisan yang banyak dicemooh sejak zaman kolonial dibuat sekadar untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Belanda membawa pulang kenangan tentang keindahan Hindia Belanda. Pada zaman kemerdekaan, lukisan-lukisan pemandangan alam ini malah disebut-sebut “lukisan pinggir jalan” karena dijajakan di taman-taman kota dan emperan toko-toko.

Nah dari sekian banyak perupa Mooi Indië, Bunawjiaya adalah yang paling kokoh bertahan sejak 20 tahun memasuki dunia seni. Sekitar 47 karyanya kini dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia, Jakara, pada 19 – 5 Januari 2018 dengan tajuk Menghadapi Stigma Mooi Indië. Kurator Jim Supangkat mengatakan Bunawijaya bisa mempertahankan pandangan-pandangannya dan tidak terpengaruh wacana-wacana dominan di dunia seni rupa, termasuk stigma Mooi Indië.


“Dalam menghadapi stigma Mooi Indië, Bunawijaya tak gentar. Dia tidak ikut-ikutan membuat lukisan abstrak, atau karya instalasi. Dia tetap melukis pemandangan alam karena dia pencinta alam,” kata Jim.

Dalam pameran ini, ditunjukkan lukisan-lukisan representasi perkembangan kekaryaan Bunawijaya, juga kiprahnya di dunia seni rupa yang mampu bertahan hingga saat ini. Mulai dari lukisan pemandangan alam atau landscape–idiom yang lazim digunakan untuk menyajikan keindahan yang membangkitkan rasa nyaman– karena dia seorang pemburu dan pencinta alam yang sering keluar-masuk hutan.


Kemudian merambah ke seascape, idiom yang sering digunakan untuk menampilkan misteri alam. Di sini, Bunawijaya mulai melukis langit, awan dan horizon. Dia tidak lagi harus menjelajahi alam untuk mencari obyek lukisan, Bunawijaya kini juga menggunakan literatur dan hasil fotografi di jaringan internet. Kecenderungan baru itu membuat lukisan-lukisan Bunawijaya sesudah 2015 tidak lagi menyalin realitas alam.

Lukisan-lukisannya menampilkan rekaan realitas alam yang tidak ada dalam kenyataan. Untuk menegaskan perkembangan tersebut, pameran tunggal Bunawijaya pada 2017 ini dilengkapi interaksi dengan Eldwin Pradipta yang dikenal sebagai seniman video. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU