© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Pameran Seni Rupa Genevieve Couteau

26 Jan 2018

Bali pernah menjadi tempat tinggal bagi perupa besar Eropa seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, Le Mayeur, dan Antonio Blanco pada dekade 1920-1950an. Melalui karya merekalah konstruksi sejarah seni rupa Asia dan Bali khususnya mulai dibangun. Namun ada satu nama lagi yang terlupakan. Ia adalah Genevieve Couteau.

Namanya mungkin tidak seakrab empat perupa yang berkontribusi terhadap kemajuan seni rupa namun karya seni dari Couteau dinilai memiliki pendekatan universalis yang lebih feminin dibandingkan dengan karya para maestro lainnya. Selain itu, kemampuannya sebagai perupa perempuan tetap medapatkan pengakuan di tengah dominasi perupa pria. 

Di Galeri Nasional Jakarta, 70 karya Genevieve dipamerkan pada publik hingga Febuari mendatang. Adalah Jean Couteau, anak mendiang Genevieve yang menjadi kuratornya. Dia bekerja sama dengan Pusat Kebudayaan Prancis di Indonesia (IFI) Jakarta untuk mendatangkan karya mendiang ibunya dari Prancis. Karya yang dipamerkan ini merupakan koleksi pribadi dari Jean Marrie yang mendapat mandat untuk menerima warisan karya Couteau selepas dia meninggal pada 2013.

Karya-karya yang dipamerkan bertarikh 1950-1970-an, dihasilkan dari perjalanan Couteau berkeliling ke Lasos dan Bali. Para pencinta seni akan menikmati beragam karya seni dengan teknik berbeda dari mulai menggunakan pensil, cat minyak, sampai krayon. Medium yang digunakan juga cukup beragam, dari mulai papan kayu sampai kanvas.

Salah satu karya masterpiece dari mendiang Couteau yang dipamerkan adalah Prayers at Van Kaognot. Karya ini dilahirkan dari perjalanannya ke Laos pada 1968. Lukisan ini menggambarkan kehidupan religius biksu di sana. “Dia mendapat kesempatan pergi ke Laos setelah bertemu dengan Perdana Menteri Laos pada waktu itu, itu di periode yang sama dengan perang vietnam terjadi. Ibu saya diundang untuk datang ke Laos dan melukiskan sebisanya tentang masyarakat laos sebagai masyarakat yang damai,” katanya.

Sebelum datang ke Laos, Couteau menuturkan bahwa ibunya sebenarnya sudah beberapa kali datang ke Indonesia, tepatnya pada 1958 dan 1972, namun tidak pernah tinggal dalam waktu yang cukup lama. Barulah pada 1975 ibunya tinggal di Bali untuk waktu yang cukup lama. Karya-karyanya soal bali yang dipamerkan dilahirkan dari kunjungannya selama sekitar 5 bulan waktu itu.

 

Jean menjelaskan pameran ini dibagi ke dalam tiga garis besar karya ibunya. Garis besar pertama adalah karya figuratif, karya imajiner yang cenderung surealis, karya potret wajah, dan karya yang menggunakan warna-warna pastel. 

Tak seperti perupa barat pada umumnya yang datang ke Asia Tenggara, Couteau tidak membuat karya figuratif yang bersifat deskriptif atau eksploitasi tubuh, terutama saat menggambarkan perempuan. “Ibu saya tidak menggambarkan perempuan dengan cara rasisme seksual seperti perupa barat lain yang datang ke Indonesia,” katanya.

Karakter ibunya yang bersifat lembut juga tercermin dari penggunaan warna pada karya-karya tersebut. Warna yang digunakan lebih banyak berupa warna pastel yang terasa lembut dan tidak mencolok.


Couteau mengatakan, dalam pameran ini pencinta seni juga akan melihat bagaimana perubahan gaya menggambar dan melukis ibunya. Anda dapat melihat secara lengkap perubahan gaya Couteau dalam arsip yang dipamerkan. Di sana, para pencinta seni bisa melihat bagaimana perubahan gaya berkaryanya ketika masih tinggal di Italia, Yunani, sampai ke Bali. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU