© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Paduan Harmoni Musik dan Lantang Suara Puisi

27 Feb 2018

Suara Godi Suwarna malam itu begitu lantang. Bait demi bait puisi dalam bahasa Sunda ia bacakan dengan gayanya yang khas. Penampilannya agak berbeda malam itu. Bukan hanya suara Godi yang terdengar, sebuah iringan musik dari synthesizer yang dimainkan musisi Tesla Manaf seakan padu dengan barisan kata-kata indah.

Suasana bertambah hikmat manakala tatanan panggung dengan pancaran lampu warna-warni berbinar. Seakan-akan sedang menonton film dengan musik pengiring. Rupanya, maksud di balik perpaduan audio-visual antara iringan musik elektronik dan puisi adalah upaya memperkenalkan anak muda pada sastra dalam pertunjukan Melihat Puisi di Galeri Indonesia Kaya. 

Selama sekitar satu jam, pertunjukan Melihat Puisi mempertemukan penulis-penulis puisi lintas generasi dengan latar sosial dan gaya berbeda. Total ada lima penyair tampil di panggung, diiringi oleh Tesla Manaf dengan musik elektronik. Mereka adalah Godi Suwarna, Hanna Fransisca, HS Dewandani, Ni Made Purnama Sari, dan Faisal Syahreza.

Hanna Fransisca perempuan keturunan Tionghoa asal Singkawang, Kalimantan Barat, mengaku ingin memperlihatkan bahwa sukunya tidak melulu identik dengan stereotipe berdagang seperti di Jakarta. “Di sana (Singkawang, red.) etnis Tionghoa jadi tukang becak, berkebun. Bapak saya juga kuli bangunan,” ujar Hanna.

Sementara puisi yang dibacakan Ni Made Purnama Sari terinspirasi dari penyair Chairil Anwar yang dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta Pusat. “Kita beruntung sekarang di era digital banyak cara untuk menyampaikan puisi. Puisi yang baik tak hadir secara seketika tapi kesungguhan untuk mencermati apa yang terjadi dalam hidup kita,” ujar Ni Made. 

HS Dewandani berbeda sendiri. Ia satu-satunya yang berpuisi dalam bahasa Inggris. Ia menyampaikan betapa masyarakat sekarang mengalami perubahan perilaku akibat dunia maya. “Kita tumbuh bareng media yang menentukan bagaimana bersikap dan terlihat. (Misalnya) perempuan dituntut untuk kurus, tapi bahenol. It's so impossible,” jelasnya.

Sang penata musik, Tesla Manaf mengaku ketika berada di panggung dia merasa banyak melakukan improvisasi lantaran para penyair melakukan hal serupa. “Pas ngobrol dengan penyairnya, mereka langsung liar kasih ide musiknya, makanya saya sempat kewalahan. Basic-nya improve, tapi pelan-pelan sudah saya kasih konsep. (Sebelumnya) saya sudah catat mereka mau apa,” ujarnya.
 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU