© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Filosofi Tembok dan Terminologi Laku

27 Mar 2018

Narima ing pandum yang berarti bisa menerima apa yang terjadi atau apa yang didapatkan dengan ikhlas. Ikhlas artinya tidak meri (iri), dengki, atau ada nafsu untuk menyamai atau mengungguli yang lain dalam soal perolehan harta benda, ketenaran, pangkat, dan seterusnya.

Hal seperti ini tentu sangat tidak mudah dilakukan, namun bukan tidak mungkin. Keikhlasan menerima kondisi diri dalam segala nasib adalah jalan tidak gampang menuju ketenangan batin. Ikhlas berimplikasi pada sabar dan suka cita. 

Itulah yang dilakukan Zaenal Arifin, seorang perupa yang tengah menggelar pameran karya lukisnya bertajuk Laku di galeri Bentara Budaya Jakarta. Dengan itu semua Arifin mencoba merubah hidup dengan tidak banyak protes dan menerima rezeki dari Tuhan melalui orang baik-baik serta mencari rezeki dengan jalan yang baik juga.

Pameran ini menghadirkan 30 lukisan dengan visual tembok bata tanpa plester, baik sebagai sebagai latar-belakang atau sebagai komponen utama yang diekspos. Laku dalam bahasa Melayu berarti terjual, alias dibeli orang. 'Laku' dalam bahasa Jawa adalah jalan peziarahan dalam mana seseorang menjalani suatu jalan hidup untuk mengalami pencerahan dan pembebasan bathiniah. 

“Saya kini dan saya dulu adalah berbeda. Melukis adalah aktivitas spiritual. Kehidupan muda telah dijalani penuh liku. Sapa wani aku, jiwa muda dengan gaya hidup yang penuh dengan dinamika,” tulis Arifin.

Sejak tahun 2013, Zaenal Arifin mengulik tembok sebagai tema karya-karyanya. Seperti Pink Floyd dalam lagunya yang berjudul Another Brick on the Wall, tembok bagi Arifin adalah metafor. Tanpa disadari, kata Arifin, perilaku kita telah membangun tembok itu sendiri. “Perilaku manusia membangun perbedaan menjadi sekat-sekat. Ada tembok di antara kita,“ kata Arifin.

Padahal, kata Arifin, di negeri dengan berbagai keragaman seperti Indonesia, sikap saling menyapa dan saling menghormati sudah terbudayakan, dan menjadi perilaku. “Budaya kita itu Pancasila. Itu yang mendasari kita bertindak, berperilaku. Itu yang sekarang terabaikan, demi kepentingan kelompok. Perilaku seperti itu harus kita ubah, kita tinggalkan,“ kata Arifin. 

Arifin juga melihat tembok sebagai hasil peradaban. Tembok melahirkan budaya baru yang berupa kota. Kota menjadi pusat ekonomi. Di sana, “tembok-tembok“ dibangun untuk berbagai kepentingan. Kehidupan kota pun menjadi kehidupan sumpek, dan macet. “Pengaruhnya kembali kepada perilaku manusia. Orang-orang menjadi agresif,“ tutur Arifin.

Namun, Arifin juga melihat tembok bukan sebagai sosok angkuh dan angker. Tembok juga ia pandang sebagai harapan dan kekuatan. Bukankah tembok tersusun dari kumpulan batu, kata Arifin. Batu-batu itu saling rekat, dan lekat satu sama lain. Rekatan yang kuat dari batu-batu itu akan menjadikan tembok sebagai benteng kukuh nan teguh. “Mari kita rekatkan menjadi satu kesatuan, kekuatan bersama. Bukan yang memisahkan,“ kata Arifin. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU