© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Melihat Komik Sebagai Seni Kontemporer

21 Apr 2018

Suka membaca komik? Suka dengan karya seni lukis? Bagaimana bila bisa menikmati keduanya sekaligus. Jika berkunjung ke Galeri Nasional, Anda akan menyaksikan ragam karya komik yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Dunia Komik. Pameran itu merupakan bagian dari penyelenggaraan Gudang Garam Indonesia Art Award 2018.

Ajang ini merupakan ajang pencarian potensi dari para seniman kreatif yang ada di Indonesia, khususnya dalam kekaryaan seni rupa. Tahun ini karya-karya yang ditampilkan bukanlah karya seni yang pada umumnya ditemui dalam medium kanvas melainkan karya-karya dalam bentuk komik. 

 

Terdapat sekitar 129 karya dari 129 perupa. Dari seluruh karya yang telah masuk, dewan kurator yang terdiri dari kurator Jim Supangkat, Hikmat Darmawan, dan Iwan Gunawan telah memilih tiga lukisan terbaik sebagai juara dalam ajang ini.

Pemenang juara pertama dalam gelaran ini adalah komikus Evelyn Ghozali dengan karyanya yang berjudul The Chair (media campuran di atas kertas, 2012). Karya ini merupakan komik yang menceritakan tentang perjalanan sebuah kursi yang melewati berbagai zaman.

Pada gambar pertama kursi tersebut digambarkan sebagai kursi milik keluarga Tionghoa. Keterangan waktu yang tertulis ‘Batavia 1740’ menyiratkan bahwa sang komikus hendak menggambarkan kejadian Geger Pecinan yang terjadi di Batavia kala itu.

Seiring berjannya waktu, kursi itu akhirnya tangan dari mulai menjadi pajangan di salah satu sudut toko di Jalan Surabaya, Jakarta hingga menjadi kursi yang diperuntukkan sebagai furnitur sebuah kafe di kota tua. Ia menghadap ke gedung yang mungkin dulunya adalah gedung keluarga yang pernah memilikinya. 

Visual yang kuat membuat komik ini tidak memerlukan dialog sama sekali. Visual komik dalam panel yang dibuat dalam bentuk vertikal setinggi kurang lebih 2 meter ini begitu kuat menceritakan konflik horizontal yang pernah terjadi dalam sejarah masyarakat Indonesia.

Pameran ini menghadirkan komik sebagai sebuah karya yang melebihi batasannya sebagai komik semata. Komik-komik yang dihadirkan juga menjadi bagian dari kecenderungan pergerakan yang terkadi di dunia seni rupa kontemporer dewasa ini.

Kurator Jim Supangkat mengatakan bahwa komik menjadi media ungkapan yang menunjukkan gejala artification atau men-seni-kan komik yang fenomenal. Padahal sebelumnya komik selalu dianggap bukan karya seni. 

“Komik punya standar-standar artistik sendiri di dunia komik yang tidak pernah mempersoalkan apakah standar-standar artistik ini bisa dikatehorikan seni ataupun bukan. Pangkalnya adalah pemikiran tentang standar-standar artistik yang merendahkan komik karena itu melihat komik sebagai bukan karya seni,” jelasnya.

Dia menjelaskan bahwa artification komik pada seni rupa kontemporer masih dibaca sebagai pengunaan gejala artisttik pada komik dalam pertentangan pandangan di dunia seni rupa. Menurutnya, bila seni rupa kontemporer sesungguhnya mengutamakan masyarakat dan budaya, maka pengkajian standar-standar artistik komik bisa menjadi awal pencarian standar artistik seni rupa kontemporer. 

 

 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU