© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Festival Europe on Screen Hadirkan Film Indonesia Secara Lebih Spesial

23 Apr 2018

Tak terasa festival film Eropa, Europe on Screen (EoS) sudah memasuki tahun ke 18 sejak penyelenggaraan perdananya pada tahun 2000. Seperti biasa, Anda akan dikenalkan beragam film berkualitas dari Benua Biru. Tak hanya itu, tahun ini 8 film Indonesia juga jadi menu yang disajikan.

Khusus film Indonesia dihadirkan dalam sebuah program bernama “On Location”. Ini karena semua film itu mengambil lokasi syuting di negara-negara Eropa. Lima film pertama merupakan film pendek bertema pedesaan dengan durasi tak genap 30 menit yang merupakan proyek Goethe-Institut. 

Pengambilan gambar semua film pendek itu berlangsung di Jerman, masing-masing berjudul Der Grenzgaenger karya sutradara Adrianus Oetjoe, Neutral Street karya Bani Nasution, Bavarian Fragments karya Rahung Nasution, Mechanical Ghost karya Tunggul Banjarsari, dan Maja's Boat karya Wahyu Utama Wati.

Sementara tiga film sisanya merupakan film panjang, yaitu Laura dan Marsha (Dinna Jasanti), Surat dari Praha (Angga Sasongko), dan Satu Hari Nanti (Salman Aristo). Anda bisa melihat jadwal pemutaran film-film Indonesia tadi di situs web europeonscreen.org.

Dalam sesi diskusi dengan penonton, EoS turut menghadirkan masing-masing sutradara. Segala hal tentang persiapan dan bagaimana kendala selama syuting di luar negeri bisa ditanyakan dalam sesi ini. “Kami menyadari dua tahun terakhir ada banyak film Indonesia yang syuting di negara-negara Eropa,” kata Nauval Yazid ketika ditanya alasan mengapa film Indonesia ikut hadir.

Menurutnya para programmer EoS memilih tiga film panjang tadi bukan hanya karena pengambilan gambarnya berlangsung di Eropa, tapi juga berkaitan dengan kualitas produksi dan cerita. Kehadiran produksi film-film Indonesia yang syuting di luar negeri ternyata ikut menyumbang pemasukan pada negara bersangkutan, terutama dari sisi kunjungan wisatawan. 

“Contohnya Hongaria yang jadi lokasi syuting Surga yang Tak Dirindukan 2. Menurut orang kedutaan Hongaria, angka aplikasi visa turis ke negara mereka langsung meningkat hingga empat kali lipat dari sebelum itu ditayangkan,” tambah Nauval.

Delapan film Indonesia melengkapi total 93 film (panjang dan pendek) yang jadi sajian dalam penyelenggaraan festival tahun ini. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan perhelatan EoS tahun lalu yang memutar 74 film. Semua film yang dilengkapi teks terjemahan itu akan ditayangkan gratis di Jakarta, Bandung, Denpasar, Medan, Yogyakarta, dan Surabaya. Rangkaian film itu nanti akan dimulai pada 3-12 Mei 2018.

Meninaputri Wismurti, Festival Co-Director menjelaskan, EoS tahun ini lebih ingin menggaet generasi milenial dan akan memutar film-film tersebut di Universitas Multimedia Nusantara dan sejumlah lokasi hit anak muda, seperti Ke:kini communal working space, Kineforum, dan lain sebagainya. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU