© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Jejak Wayang Potehi dalam Wajah Indonesia

14 May 2018

Wayang Potehi menjadi bagian dari sejarah akulturasi di Nusantara. Untuk mengenangnya, Bentara Budaya Jakarta menggelar pameran seputar wayang Potehi bertajuk, ‘Waktu Hidupkan Kembali Potehi’. Tampak ratusan wayang Potehi dijejerkan dalam ruang galeri. Semua properti itu merupakan koleksi Sanggar Fu He An, Jombang, Jawa Timur.

Sonny Gunawan dari Sanggar Fu He An, selain pameran juga digelar workshop dan pementasan sebagai penghargaan kepada tujuh tokoh yang menghidupkan kembali Wayang Potehi. “Dalam pameran ini kami memamerkan 154 wayang dan juga 42 Wayang Potehi yangg sudah berusia ratusan tahun,“ jelasnya. 

Salah satu orang yang berjasa menghidupkan kembali Wayang Potehi Toni Harsono alias Tok Hong Lay (46). Ia menjadi salah satu penerima penghargaan dari Bentara Budaya atas kepeduliaannya melestarikan seni wayang Potehi.

Sebelumnya, seni Wayang Potehi sempat mati suri di Tanah Air selama lebih dari 32 tahun. Seni yang dibawa perantau Tionghoa ke Indonesia pada abad ke-16 ini, lanjutnya, baru menggeliat kembali di tahun 1998 atau pasca peristiwa Reformasi. 

”Sudah lebih dari 100 tahun kami secara turun temurun menghidupkan kembali Wayang Potehi. Kami sangat berterima kasih atas apresiasi yang diberikan oleh Bentara Budaya Jakarta lewat kegiatan ini,” ungkapnya.

Toni salah satu yang mewarisi, merawat dan menghidupkan wayang potehi dari pendahulunya. Toni memulai aktivitasnya di Kelenteng Hong San Kiong di Desa Gudo, arah barat daya Kota Jombang. Kelenteng ini sejak awal abad 20 dikenal sebagai pusat Wayang Potehi.

Pada masanya, di Gudo dikenal dalang Wayang Potehi tersohor bernama Tok Su Khwei, yang tak lain adalah kakek dari Toni. Keterampilan mendalang itu menurun ke ayah Toni yaitu Tok Hong Kie, dan kemudian berlanjut ke Toni. 

Tiga generasi tersebut secara turun temurun dalam rentang waktu lebih dari 100 tahun ikut menghidupkan wayang potehi. Berkat ketekukan dan kecintaan mereka, wayang potehi bertahan di tengah gelombang sejarah, dan arus perubahan zaman.

Generasi hari ini bisa mengenal wayang potehi sebagai bagian dari seni pertunjukan yang selama ratusan tahun tumbuh di negeri ini. Ia menjadi bagian dari wajah kebudayaan di Indonesia. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU