© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Metafora Tong Edan dalam Seni Rupa

25 May 2018

Jika Anda pernah pergi ke pasar malam, tentu tidak asing dengan hiburan murah meriah bernama Tong Edan. Dalam setiap penyelenggaraan pasar malam di berbagai daerah, Tong Edan menjadi salah satu wahana favorit pengunjung. Selalu saja ada decak kagum yang terlintas manakala seorang pemain Tong Edan mulai menunjukkan aksinya.

Di sebuah arena berbentuk lingkaran mirip tong raksasa, dua hingga tiga pemain mulai menaiki sepeda motornya. Mereka melaju kendaraan itu dengan cepat sembari mengitari permukaan dalam tong. Mereka menantang maut karena sekali saja kesalahan muncul, habis sudah. Saat adrenalin terpicu itulah riuh ramai penonton semakin menggema. 

Hiburan rakyat ini menjadi inspirasi ketika Tyaga Art Management Malang bekerjasama dengan Bentara Budaya Jakarta dan Kompas Gramedia menyelenggarakan pameran bertajuk,Tong Edan Visual Art Exhibition. Pameran ini mencoba melakukan pemaknaan retrospektif sekaligus respon kreatif atas fenomena pasar malam yang sempat mengemuka di Jakarta sejak 1889.

Tentu saja Tong Edan hanya sebuah analogi. Ia menjadi semacam metafora untuk mendeskripsikan kehidupan secara umum. Bahwa kehidupan biasanya hanya berputar putar disekitar situ-situ saja, bahwa hidup harus terus bekerja layaknya mesin yang menderu-deru, bahwa hidup berada dalam tekanan, keceriaan, keatas, kadang melipir kebawah sekaligus mengkombinasikan antara yang absurd, relativitas religius dan tarik ulur rasionalitas. 

Dalam laku keseharian, Tong Edan juga punya sebutan Tong Setan atau Roda-roda gila, frasa ini menggambarkan bagaimana pertunjukan tong edan memicu adrenalin penontonnya yg dianggap sebagai keahlian yang sungguh “gila” berani menaiki kendaraan bermotor di dinding seperempat miring itu.

Nah, roda "kegilaan" itu terselip dalam proses kehidupan, yang bahasa gaibnya bisa pula disebut kesetanan, kesurupan, ketidaksadaran, instingtual atau perilaku tanpa pikir panjang yang kerap kali kita temui dalam kehidupan sehari-hari, bentuk lain dari modernitas. 

Tong Edan menginspirasi kegiatan pameran seni rupa yang akan dilaksanakan pada tanggal 17-26, Mei 2018. Pameran seni rupa ini mencoba mengubah Tong Edan menjadi simbol dan metafora ke dalam karya seni sesuai dengan ekspresi dan interprestasi setiap pelaku seni. Menilik baik dari sejarah pasar malam dengan wahana “Tong Edan“nya, perkembangan seni rupa modern-kontemporer, kondisi sosial Indonesia ataupun aktifitas seniman dalam mendukung proses kreatifnya.

Pameran itu diramaikan oleh puluhan seniman seperti, Aly waffa, Mayek Prayitno, Andie Aradhea, Iksan BreyKele, Angga Yuniar Santosa, Nabila Dewi Gayatri, Anis Kurniasih, Nugroho Heri Cahyono, Ariswan Adhitama, Nugroho Wijayatmo, Dira Herawatin, Rizka Suhita Parasinta, Erik Wiliean, Sinwan Aliyafy, Galuh Tajimalela, Suwandi Waeng, Hendung Tunggal Jati, Teguh Paino, Ilham Kurniawan, Tito Tryamei, Iqbal M, Tri Wahyudi, Isa Ansory Ulil Gama dan masih banyak lagi.  

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU