© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Kolaborasi Tanpa Konsep Goenawan dan Hanafi

25 Jun 2018

Kolaborasi dalam pameran seni rupa tak selamanya harus mengikuti aturan dan tatanan. Kadang perlu sebuah gebrakan yang membuat karya kolaborasi itu memiliki makna lebih dalam. Seperti yang dilakukan Goenawan Mohamad dan Hanafi dalam pameran ’57 x 76’ di Galeri Nasional, Jakarta.


57 dan 76 diambil dari usia Goenawan dan Hanafi. Nama mereka disambungkan dengan simbol x bukan + sebagai tanda bahwa pameran ini memiliki makna lebih dalam ketimbang kerjasama dua seniman. “Sebab intensinya bukan hanya kerjasama tapi meleburkan diri menjadi sebuah kolaborasi,” kata kurator Agung Hujatnikajennong. 

Antara Goenawan dan Hanafi sama-sama telah melakukan banyak kolaborasi. Goenawan Mohamad selama beberapa tahun terakhir ini aktif di dunia seni rupa. Sedangkan Hanafi juga pernah kolaborasi lintas disiplin bersama sastrawan, musisi, dan performance artist. Nantinya, di pameran koleboratif tersebut lebih dari 200 karya di atas kertas dan kanvas akan ditampilkan. 

Goenawan Mohamad mengatakan kolaborasi keduanya sama sekali tidak ada diskusi tentang konsep. Namun ia dan Hanafi memiliki kedekatan, faktor itulah yang mendukung munculnya ide pameran. Tahun lalu Hanafi memunculkan ide tersebut ketika memlihat karya Goenawan di pameran “Kata ,Gambar” di galeri Dia.lo.gue. Sebaliknya, Goenawan juga pernah diminta menuliskan pengantar dalam pameran tunggal Hanafi pada 2009 silam.


“Kami tak banyak bicara satu sama lain. Hanafi yang tanpa pesan, tanpa kata-kata akan mengirimkan karya-karyanya kepada saya, saya kira dengan keyakinan hasil kreasi itu tak akan jadi buruk jika saya menambahkan garis, warna dan bentuk yang saya buat,” kata Goenawan. 

Hanafi pun mengibaratkan karya kolaborasinya seperti sebuah novel yang dibaca di halaman tengah. Pengunjung tidak akan bisa menduga awal dan akhir dari halaman novel. "Sebuah kanvas punya banyak pintu, lebih banyak dari yang dimiliki sebuah novel," ujar Hanafi. 


Dari dua pandangan di atas, keduanya ingin bebas untuk saling 'merusak' layaknya dialog yang tak selalu baik-baik saja. "Bagi saya kata 'dirusak' adalah isyarat untuk membuat metamorfosis pada garis, bidang, dan warna yang ia tawarkan. Pada umumnya Hanafi membuat karya-karya monokromatik dan kalau tidak, deretan karyanya mengisyaratkan tema kenangan kepada Picasso, Max Ernst, sugesti erotic, dan bentuk-bentuk surealistis. Saya menyambut 'corak' ini mengikutinya justru dengan membuat beda tiap kali," tambah Goenawan.  

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU