© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Luka atas Kaum Urban dan Kota

25 Jun 2018

Tak ada perayaan meriah yang terlihat dalam pameran tunggal seniman jalanan, Farhan Siki di Galeri Kertas, Jakarta. Seniman yang pernah sukses menggelar solo eksebisinya di Italia itu memilih tema lain dalam pameran tunggal bertajuk, M A L. Ia merefleksikan luka terhadap kota dan masyarakat urban.

“M A L adalah cara pandang yang bergeser dalam melihat fenomena masyarakat urban, bagaimana melihat sesuatu yang luka; cacat, afkir dan sisa-sisa dari kesempurnaan masyarakat kota, masyarakat post-industri” tutur Farhan. 

Selama ini Farhan merupakan seorang street artist yang dikenal dengan mural dan grafiti khas. Namun, di pameran tunggalnya ia mencoba melakukan eksperimen lebih mendalam di atas kertas yang kerap disebut lebih anomali.

“Teknik dan pendekatan saya dalam karya medium kertas ini adalah teknik yang agak anomali. Artinya seni di atas kertas umumnya berupa aquarelle, drawing, atau print making. Tapi saya menggunakan cat semprot, enamel, dan campuran tinner yang biasa digunakan pada benda besi atau papan kayu,” jelasnya lagi.

Yang menarik dari pameran ini adalah kehadiran kawan-kawan sesama street art khususnya dari Jakarta, Depok, Tangerang dan Bogor yang akan meramaikan pameran. Mereka akan mengikuti diskusi dan presentasi karya di galerikertas Studiohanafi. 

Termasuk Bujangan Urban, sebagai salah satu pendiri Gardu House yang akan berbagai tentang street art dan komunitasnya pada teman-teman generasi muda tersebut. Hasil dari presentasi dan sharing karya ini di mana Farhan akan memilih beberapa perupa yang akan berpameran bersama selanjutnya.

Heru Joni Putra, selaku penanggungjawab galerikertas dalam merespon pameran. “Begitulah, dalam karya Farhan Siki, kita tak akan menemukan perayaan meriah atas konsumerisme, melainkan kita temukan sisi ironis yang berbeda dari siklus produksi-konsumsi massa, kadang kita lihat sisi rusuh dari dunia urban, atau kita rasakan kembali bagaimana kuasa tanda-tanda bekerja sampai ke sisi terkecil dalam kehidupan sehari-hari kita”. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU