© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Gemitang, Lakon Tentang Negeri yang Abai Pengetahuan

26 Jun 2018

Arjuna adalah seorang astronom. Ia jatuh cinta pada seorang gadis bernama Sumbrada. Sumbrada bukanlah nama asli. Ia bernama Ssumphphwttsspahzaliapahssttphph dan berasal dari planet Ssumvitphphpah, yang berjarak 12 miliar tahun bumi. Walaupun begitu, Arjuna tak peduli. Ia mantap membawa Sumbadra untuk menemui keluarganya.

Wibowo, ayah Arjuna, adalah seorang tokoh partai yang menjadi anggota Dewan Rakyat. Dia juga seorang koruptor. Kini, dia tahu, bahwa jejaknya sudah terlacak dan pihak yang berwenang mulai bersiap menggerebeknya. Di saat itulah, Arjuna datang memperkenalkan Sumbadra kepada Wibowo sekeluarga. Bagaimana reaksi Wibowo dan keluarganya terhadap tamu istimewa tersebut? Apakah Arjuna dan Sumbadra bisa bersatu?

Ringkasan cerita tadi akan dimainkan dalam panggung teater dengan lakon Gemintang oleh kelompok teater Koma di Graha Bhakti Budaya pada 29-8 Juli 2018. Ini merupakan produksi ke 153 dan sebagai pentas besar pertama mereka tahun ini. Dalam lakon terbarunya, Gemintang, Teater Koma ingin menyampaikan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dan pendidikan demi kemajuan sebuah bangsa. 

Penulis naskah dan sutradara Gemintang, Nano Riantiarno mengatakan, lakon Gemintang terjadi di sebuah negeri di mana manusia sudah melupakan ilmu pengetahuan dan mengabaikan pendidikan, lalu hanya bisa melakukan tindakan korupsi. Ketika kekuasaan dan kekayaan menjadi tujuan akhir, banyak orang yang rela melakukan segala cara untuk meraihnya.

“Apa yang terjadi ketika generasi muda mencoba memberontak, melepaskan diri dari jerat kebobrokan generasi sebelumnya. Inilah kisah manusia yang mencari cinta di negeri tanpa cinta,” kata Nano.

Pementasan Gemintang dimeriahkan penampilan Budi Ros, Ratna Riantiarno, Idris Pulungan, Salim Bungsu, Rita Matu Mona, Daisy Lantang, Dana Hassan, Suntea Sisca, Andhini Puteri, Ina Kaka, Bayu Dharmawan, Dodi Gustaman, Sir Ilham Jambak, Julung Zulfi, Sekar Dewantari, Bunga Karuni, Febri Siregar, Joind Bayuwinanda, Tuti Hartati, dan Rangga Riantiarno. 

Lakon yang mengusung tema Fiksi-Ilmiah ini juga akan mengajak 750 siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di Jakarta. Produser Teater Koma Ratna Riantiarno menuturkan ke-750 siswa dan siswi tersebut masuk dalam program Apresiasi Seni. Serta didukung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta.

“Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DKI itu man punya program nonton bareng film, kenapa teater tidak, makanya kami ajukan program tersebut. Di tanggal 3 Juli mereka akan nonton khusus untuk hari itu,” kata Ratna.

Para siswa yang terpilih diseleksi berdasarkan sekolah yang memiliki ekstrakurikuler teater. Menurutnya, apresiasi teater yang dilakukan anak-anak muda atau generasi milenial masih minim. “Saya sudah 40 tahun di Teater Koma, target penonton juga semakin berkembang. Kita harus apresiasi sampai ke cucu-cucu. Kegiatan apresiasi ini adalah untuk menjaring anak muda agar menonton teater,” tambah Ratna.

Selain 750 siswa dan siswi, program Apresiasi Seni Pertunjukan Teater Koma juga mengajak 150 pekerja seni teater, guru, dan mahasiswa di Jakarta untuk menonton. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU