© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Realisme Grotesk dalam Imajinasi Natisa Jones

11 Jul 2018

Kebebasan. Mungkin itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan karya-karya Natisa Jones di pameran tunggal 'Grotesk' yang saat ini terpajang di Galeri Salihara, Jakarta. Ada puluhan karya dengan medium kertas dan kanvas yang dipamerkan Natisa. Seniman yang kini tinggal di Bali dan Amsterdam itu memang punya impian jadi pelukis sejak kecil.

Ketika belajar di di Prem Tinsulanonda International School Thailand dan Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), Australia, Natisa mulai mengeksplorasi beragam tema. Sebagian besar adalah tema personal yang dibuatnya secara spontan dan ekspresif. 

Terkadang ketika dalam suatu mood tertentu, Natisa Jones akan mengambil kertas lalu mulai mencoret-coret. “Tiga sampai delapan garis sudah jelas bentuknya. Kalau di lukisan, saya bisa lebih lama lagi ngerjainnya,” tutur Natisa Jones.

Dalam suasana hati tertentu, Natisa Jones mencari jawaban lewat proses menggambar. Medium berkarya yang digunakannya pun bisa dilihat dari mood-nya saat itu. “Menggambar adalah proses saya sejak umur 5 tahun. Saya tidak pernah ada persiapan harus menggambar apa. Tergantung apa yang terjadi saat itu,” ungkapnya.

Natisa Jones bukan sembarang seniman muda yang eksis berkarya dan mempublikasikannya di media sosial. Ia menolak arus dari kesehariannya sebagai anak muda dan perempuan, serta berkarya menurut keinginannya. 

“Karya yang paling muda dan ada di pameran tunggal ini berasal dari tahun 2011. Mediumnya juga beda-beda, kalau di atas kertas bisa 10 atau 30 detik selesai jadi. Kalau di kanvas mikir dulu,” ujar Natisa.

Warna-warna di karyanya pun sebagian besar nyeleneh, ada yang digoreskan dengan warna merah, biru, dan hitam. Terlihat sekali emosi Natisa seakan meluap-luap. Jika ditelisik, pengunjung bisa mengetahui warna dominan yang dipakai Natisa di beberapa periode tertentu.

Misalnya saja di tahun 2013, ia lebih banyak menggunakan warna merah, tahun 2014 ada warna biru, serta di tahun ini mayoritas berwarna pink. Selain warna, pengunjung pun bisa mendalami berbagai bentuk nyeleneh di atas medium kertas dan kanvas. 

Kurator pameran Asikin Hasan dalam pengantar eksibisi mengatakan ketika mengunjungi studio Natisa, kesan grotesk langsung terasa. “Realisme grotesk umum kita temukan dalam karya-karya pelukis Eropa, antara lain dan paling mencekam bisa kita lihat pada karya-karya Otto Dix, George Grosz, dan para pelukis lain di masa Republik Weimar, di awal hingga menjelang pertengahan abad ke-20,” tulis Asikin Hasan.

Karya-karya Natisa pun, ditulis Asikin, adalah gambaran dunia bawah sadar dengan peristiwa lain yang mencoba meloloskan diri dari kesesakan dan kepungan sensor resmi dari definisi umum tentang 'kebaikan'. “Ia mencoba mengembalikan manusia pada pengalaman-pengalaman paling personal,” tulis Asikin lagi. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU