© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Perenungan Tisna tentang Tuhan yang Maha Indah

15 Jul 2018

Perupa Tisna Sanjaya mungkin satu dari sekian banyak seniman yang mampu menemukan Tuhan. KeberadaanNya bagi perupa ini sangatlah sakral. Tak boleh sedikit pun nafsu kuasa dan intrik politik menyentuhnya.

Itulah yang ingin disampaikan dalam sebuah pameran solonya di Galeri Nasional, Jakarta. Tisna memberi perhatian pada praktik-praktik keberagaman yang disaksikannya belakangan ini. 

Ia merenungi Asmaul Husna yang berjumlah 99 dan mewujudkannya kembali pada karya yang luar biasa dengan tajuk pameran, Potret Diri Sebagai Kaum Munafik. Rizki Zaelani, kurator pameran mengatakan kehadiran manusia sebagai hamba Allah (abdillah) adalah momen kesadaran utama yang terus-menerus coba dihidupkan Tisna dalam pameran ini.

“Karya-karya patung, objek dan instalasinya terkait dengan pertanyaannya atas pelibatan agama dalam politik atau penggunaan agama untuk meraih tujuan-tujuan kekuasaan," tutur Rizki.

Bagi Tisna, agama menjadi lebih humanis ketika seni hadir di dalamnya. Beragama dan menjalani praktik seni adalah hal yang sama-sama menyenangkan. “Keberagamaan yang dihadirkan oleh Tisna adalah keberagamaan yang merayakan kekayaan, pluralitas dan rahmat kehidupan. Dengan kata lain, kehidupan agama baginya tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan agama kehidupan,” katanya lagi. 

Ada 8 karya monumental berskala besar yang memenuhi ruang pamer. Salah satunya tergambar dalam sebuah karya di mana gerakan sujud di atas lembaran sajadah maupun plat etsa bagi Tisna memiliki makna relijius (sebagai doa) sekaligus estetik (sebagai seni).

Sujud bagi Tisna adalah gestur dan bentuk performans untuk merendahkan diri kepada yang paling dasar, mengakui diri yang kecil di hadapan Allah. “Di dalam performans mencetak tubuh, Tisna mengungkapkan ‘Nama-Nama Allah Yang Indah’ (Asmaul Husna) yang berjumlah 99. Sebanyak itu pula Tisna Sanjaya selama berbulan-bulan mengerjakan pelat-pelat etsanya untuk pameran ini,” tambah Rizki.

Sementara itu Kepala Seksi Pameran dan Kemitraan Galeri Nasional Indonesia Zamrud Setya Negara mengatakan pamerannya berhasil membuat 'rusuh' Galeri Nasional Indonesia. “Tiga kali saya melihat pameran Kang Tisna dan selamat membuat kerusuhan yang indah di Galeri Nasional. Hari ini pengunjung akan diajak lebih heboh lagi,” ujarnya. 

Menurut Zamrud, sosok Tisna Sanjaya mampu memerdekakan publik sekaligus ruang pamer. Karya-karya ciptaan pria kelahiran Bandung Januari 1958 silam itu diyakini Zamrud akan membuat kaget publik. Hasil kreasi dan ciptaan Tisna berdasarkan pada pengalaman rejilius dan lingkungan sekitarnya, ditambah sentuhan artistik yang akan membuat kagum.

“Karya seni, layout, dan yang ada di pameran di ruang pamer, silakan menilainya sendiri. Pihak Galeri Nasional berharap pameran ini mari kita rekomendasikan untuk belajar bersama. Bagaimana merdeka di ruang pamer,” tandasnya.

Pameran yang juga merayakan 60 tahun Tisna Sanjaya berlangsung mulai 6 hingga 21 Juli 2018. Eksibisi didukung oleh Lawangwangi Artspace-ArtSociates Bandung. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU