© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Dua Dekade Kartun Mice Memotret Indonesia

25 Jul 2018

Kocak, penuh sindiran, menyentil, dan tentu saja sangat menghibur. Itulah gambaran perasaan setiap kali melihat kartun karya Muhammad Mirsyad atau yang dikenal dengan Mice. Sejak pertama kali berkarya 20 tahun lalu, Mice menggunakan karakter dirinya sendiri sebagai figur kartun yang ia ciptakan.

Ada yang khas dari karya Mice, baik ketika masih berduet dengan Benny maupun setelah “bersolo karir”. Hingga dua dekade berjalan, kekhasan itu seakan tak lekang oleh waktu. Mice selalu sanggup membuat orang yang melihat karyanya tertawa. Ya, minimal akan tersenyum kecil. 

Mice sering bercerita mengenai keseharian kaum urban misalnya lewat perbedaan kontras antara tempat tinggal dan tempat kerja. Lalu ada lagi perkembangan teknologi media sosial yang dibumbui perang status hingga berujung unfriend. Dari sekian banyak karya, tentu yang melekat di ingatan adalah ulah isengnya menggambarkan figur profesi dengan pembedahan stereotipe khas Mice.

Merayakan dua dekadenya, Mice menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional, Jakarta. Ia menamainya, Indonesia Senyum-20 Tahun Mice Berkarya. Dikuratori oleh Evelyn Huang dan Yulian Ardhi, pameran ini akan dibagi per kategori, mulai tema keseharian Mice sendiri, tema politik, gawai, kartun profile, hingga kategori pengembangan yang telah dilakukan oleh Mice, yaitu animasi dan game mobile. 

Menurut Yulian Ardhi Mice adalah salah satu kartunis tanah air yang berhasil memotret keseharian masyarakat. Meski saat ini makin banyak kartunis bermunculan, seiring dengan perkembangan media sosial yang memudahkan tiap orang untuk menyebarkan karyanya, namun Mice kartun masih menjadi yang paling berhasil memotret keseharian masyarakat Indonesia, khususnya orang Jakarta.

“Saya bisa samakan dengan seri Doraemon di Jepang, selain menghibur, Doraemon juga turut memperkenalkan gaya hidup orang Jepang umumnya, masyarakat urbannya,” ungkap Yulian.

Lebih jauh Yulian mengatakan, ada dua orang yang dianggap memberi pengaruh besar dalam karya-karya Muhammad Mice selama 20 tahun berkarya. Jika dilihat dari gaya menggambarnya, Mice terpengaruh oleh gaya LAT, kartunis asal Malaysia, selain juga Tantio Ajie, yaitu dosennya sendiri saat dirinya kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). 

Selama 20 tahun berkarya banyak hal yang telah dilalui seorang Muhammad Mirsyad, salah satunya yang mencengangkan dan disayangkan banyak penggemar adalah perpisahan dengan Benny.

Yulian sendiri melihat ini sebuah hal yang wajar dalam berkesenian, karena perpisahan tersebut tidak serta merta mengubah gaya kartun Mice yang lucu dan satir. Selain menampilkan karya, pameran ini juga akan diramaikan dengan workshop kartun yang bakal digelar pada 29 Juli 2018 mulai pukul 14.00, dan peluncuran buku baru yang digelar pada 4 Agustus 2018. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU