© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Art Brut dan Seni Sebagai Terapi Jiwa

12 Aug 2018

Pakwi atau Dwi Putra Mulyono seakan tak pernah bosan melukis obyek anak ayam. Terkadang ia menambahkan figur lain seperti wayang kala dirinya mulai menggoreskan cat dan kuas di atas kanvas. Cobalah Anda luangkan waktu sejenak dan mulai menikmati setiap jengkal karya Pakwi.

Begitu menyenangkan karena bisa menikmati pikiran bebas Pakwi meski tak jarang menyebut karya itu kekanak-kanakan. Begitu pula perasaan timbul ketika melihat karya lain seperti milik Ramandhika. Ia membawakan imajinasinya dalam sebuah obyek yang simple seperti Masjid, Pura, hingga Saint Basil’s Cathedral. 

Atau jika Anda rindu dengan karya Anfield Wibowo, bocah yang pernah mengadakan pameran tunggal di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki bisa datang ke pameran bertajuk Celebrating Therapeutic Art Activities. Sebuah pameran yang dibuat oleh orang-orang berkebutuhan khusus (mental disability). Ada nama Hana Madness, Norman Salim, Maison, Nelson, hingga Audrey Gunawan.

Pakwi hidup dengan skizofrenia. Anfield Wibowo yang masih berusia 14 tahun adalah anak dengan asperger (gejala autisme) dan tunarungu. Hana Alfikih atau yang lebih dikenal dengan Hana Madness adalah perempuan muda dengan gangguan bipolar disertai halusinasi.

“Seni bagi saya adalah terapi. Saya bisa menuangkan apa yang saya lihat dan rasakan. Seni juga membuat orang mengapresiasi saya,” kata Hana. 

Hana membuktikan diri bahwa orang dengan disabilitas mental mampu hidup mandiri tanpa stigma apapun. Pilihannya menggunakan seni sebagai medium terapi membawanya sebagai salah satu delegasi dari Indonesia dalan Festival Unlimited 2016 di London.

Bagi mereka, seni merupakan medium terapi kejiwaan. Jenis seni yang dihasilkan oleh orang-orang seperti Pakwi maupun Hana dikenal sebagai Art Brut. Genre seni ini diinisiasi oleh Adolf Wolfli (1864-1930). Wolfli merupakan pasien rumah sakit jiwa di Swiss sejak 1899. 

Karya-karyanya ditemukan oleh seniman Prancis Jean Dubuffet pada tahun 1945. Dubuffet kemudian mempopulerkan genre seni baru yang dikenal sebagai art brut (seni kasar) atau outsider art, yakni karya seni yang diciptakan oleh penyandang disabilitas mental.

Karya-karya mereka layak ditengok. Kaya emosi sekaligus terasa humanis yang terkemas otentik di tangan-tangan para seniman, yang meski hidup dengan gangguan mental, tapi jauh terasa kejujurannya. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU