© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Sajian Teater Nasioal dari Sabang sampai Merauke

21 Oct 2018

Alunan musik berbahasa Kaili keluar dari mulut dua musisi itu secara bergantian. Nada-nada mereka seakan mengiringi sebuah latar tiga kardus berukuran besar. Tak berapa lama dari kardus itu keluar manusia seakan lahir dari sebuah rahim. Mereka berbalut plastik perhalan bergerak membebaskakan dirinya.


Seperti proses lahirnya seorang bayi, ketiga manusia itu mulai merangkak hingga berjalan. Pada adegan berikutnya, empat pemain berada di dalam kotak yang terbuat dari bambu. Sesekali mereka mencoba mengucap 'sssttt' pada hadirin agar tak berbisik. Lalu melanjutkan aktivitas dengan bergerak tak karuan. 

Begitulah gambaran potongan adegan pertunjukan teater di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki berjudul 'Song'i' yang dimainkan oleh Komunitas Polelea, Sigi, Sulawesi Tengah. Pertunjukkan itu merupakan bagian dari partisipasi mereka di ajang Pekan Teater Nasional 2018 bersama 15 grup teater lainnya dari 15 kota.
 

Pertunjukan 'Song'i' yang diambil dari bahasa Kaili berarti sebuah bilik kecil tempat kita merenung mengenai kehidupan. “Antara kehidupan kita menuju kehidupan abadi di negeri akhirat,” tutur sutradara Teater Polelea Ais Manggala. 

Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Irawan Karseno menuturkan Pekan Teater Nasional menjadi sebuah forum bagi mereka yang ada dalam industri teater. “DKJ dan Direktorat Kesenian melibatkan 16 grup teater menjadi satu forum. Agar saling mengenal kesadaran dan saling berbagi cerita,” tutur Irawan.

Ke-16 grup yang berpartisipasi di antaranya adalah Teater Language (Madura),Teater Sakata (Padangpanjang), Teater Ghanta (Jakarta), Komunitas Polelea (Sigi, Sulawesi Tengah), Teater Selembayung (Pekanbaru), Teater Bel (Bandung), Teater Akar (Tegal), Teater Yupa (Samarinda). 

 

Selain itu ada juga Teater Sirat (Surakarta), Teater Akarpohon (Mataram), Teater Rumahmata (Medan), Nara Teater (Lewolema, Flores Timur), Teater Tobong (Surabaya), dan Kala Teater (Makassar) yang bakal menutup perhelatan Pekan Teater Nasional 2018.

“Pekan Teater Nasional ini bekerja untuk mengidentifikasi grup teater yang ada di Indonesia dan bisa diposisikan menjadi tiga tipe. Yakni grup teater komunitas, teater kota, dan kampus,” tutur salah satu tim kurator Benny Yohanes.

 

Menurut Benny, lewat Pekan Teater Nasional, setiap grup akan membawakan wilayah pengetahuan yang dikonstruksi tapi lewat apresiasi bersama. “Hasil pemetaan kami, teaternya tidak berbasis Jawa sentris, yang sebelumnya dipakai sebagai alat pembacaan utama. Tapi grup ini hadir tanpa adanya warisan dari generasi sebelumnya atau punya idola,” katanya. 


Ajang Pekan Teater Nasional berlangsung hingga 14 Oktober 2018. Jadi, masih banyak waktu untuk kalian yang ingin menikmati panggung teater berkualitas! 

Please reload

Seek-a-seek #2 Merespon Tantangan di Dunia Desain Grafis

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU