© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Tradisi Kritik yang Asyik dalam Kartun

21 Oct 2018

Kritik bisa muncul dalam beragam bahasa dan gaya. Ada yang memilih dengan gaya berapi-api dan bumbu bahasa pedas namun tak jarang yang asyik dengan gaya santun bahkan cenderung lucu. Ya, sepertinya sebagian besar kritikus yang memilih jalan itu adalah seorang kartunis.


Sebutlah nama-nama kartunis handal seperti Beng Rahadian, Didie SW, Ika Burhan, Mice Cartoon, Rahardi Handining, hingga Thomdean. Mereka seakan tak pernah melepaskan sebuah tradisi dalam kartun yang lahir dari tangan-tangan mereka; kritik. Itulah yang ingin disampaikan ketika enam kartunis ini mengadakan pameran bersama dengan tajuk, Kartun Ber(b)isik. 

Beng Cs berusaha menyajikan kritik itu sesuai semangat “zaman now” dengan segala perubahannya yang begitu cepat. Ini bisa juga dianggap sebagai cara mengajak generasi millenial untuk melakukan kritik secara santun sebagai anggota masyarakat yang beradab.


Penyampaiannya dalam bahasa kartun mungkin tidak mudah. Kartunis Harian Kompas GM Sudarta (almarhum), dengan sosok Om Pasikom-nya pernah mengatakan, kadang kala kritik kartun atau karikatur kurang tajam. Karikatur yang tajam menurut Mas GM adalah, karikatur yang bisa membikin tersenyum orang atau siapa pun yang dikritik. 

Visi kartun lebih pada penyampaian perbaikan lewat cara ”berteriak dalam bisikan” bahwa ada yang perlu diperbaiki. Mungkin yang berbisik itu oleh sebagian telinga terdengar berisik. Pameran ini mengetengahkan karya-karya dua dan tiga dimensi. Selain itu, para kartunis juga mencoba berkarya melintas batas bidang ekspresi kartun selama ini antara lain dengan menggunakan medium kanvas.


Seno Gumira Ajidarma dalam pengantarnya menyebutkan bahwa dalam pameran ini para kartunis, yang hidup dalam keahlian untuk menggiring pemandang kartun ke dalam jebakan permainan mereka, di ruang pameran mengendorkan tali jerat, berekspresi lebih bebas, dan memerdekakan para pemandang untuk suka-suka sahaja menafsirkannya. 

“Mereka yang berpameran di sini, meski sama-sama kartunis, memberi tekanannya masing-masing atas bidang yang mereka geluti itu,” tambah Seno.


Selain menyaksikan pameran, keenam seniman yang berpameran juga akan membagikan pengalaman menciptanya dalam acara bincang kartunis serta serangkaian workshop kreatif pembuatan kartun. 

Please reload

Seek-a-seek #2 Merespon Tantangan di Dunia Desain Grafis

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU