© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Kampanye Pemanasan Global lewat Science Film Festival

13 Nov 2018

Kebanyakan dari mungkin sudah familiar dengan istilah pemanasan global atau global warming. Fenomena ini setiap tahun menjadi pembicaraan di berbagai agenda pertemuan internasional. Bukan hal aneh sebab pemanasan global sudah terasa saat ini dengan gejala perubahan iklim yang terjadi di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

Publik harus selalu diingatkan bahwa pemanasan global merupakan ancaman serius bagi kelestarian lingkungan. Salah satu cara menyebarkan kampanye ini adalah melalui media film. Pusat kebudayaan Jerman di Jakarta, Goethe Institute melakukannya lewat Science Film Festival 2018. Tahun ini merupakan kali kesembilan agenda ini dilaksanakan. 

Agak berbeda dari biasanya. Tema yang diangkat adalah Revolusi Pangan: Menghadapi Tantangan 2050. Gagasan ini sengaja diambil agar publik mampu keluar dari pemikiran umum yang menyebutkan bahwa pemanasan global hanya disebabkan transportasi dan energi yang tidak ramah lingkungan. Festival ini ingin mengingatkan bahwa pola makan manusia yang masih bergantung pada daging serta metode pemasakannya juga berbahaya bagi lingkungan.

Dalam siaran persnya, Direktur Goethe Institut Jakarta, Heinrich Bloemke menjelaskan bahwa pola produksi makanan secara global memberikan dampak lebih besar pada kerusakan lingkungan. Pola produksi yang dimaksud ia hewan ternak, produksi sawah skala besar dengan membuka lahan hutan, dan emisi nitrogen serta oksida dari industri pertanian.

“Tema tahun ini adalah isu yang sedang dibicarakan oleh banyak negara di dunia, khususnya yang berkaitan dengan keberlanjutan pasokan makanan. Bagaimana mengurangi emisi pertanian oleh produsen,” kata Heinrich. 

Untuk memaksimalkan ide tersebut, festival tahun ini diperluas ke 42 kota di Indonesia. Mereka juga pergi ke berbagai sekolah dan bekerja sama dengan guru untuk mengajarkan materi tentang makanan yang ramah lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Festival ini akan mengunjungi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, dari Aceh ke Bandung di Jawa Barat, dan bahkan Sorong di Papua Barat.

Mereka akan melakukan eksperimen agar siswa benar-benar memahami ruang lingkup permasalahan ini secara lengkap. “Dengan membawa festival ke sekolah kami dapat memberi mereka pendidikan yang lebih komprehensif tentang masalah ini,” Heinrich. 

Film-film yang diputar pada malam pembukaan sebagian besar merupakan fitur ramah anak yang bertujuan untuk mengajar penonton muda tentang pentingnya mengurangi limbah makanan dan bagaimana berkontribusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Salah satu film adalah singkat yang menyoroti penggunaan larva serangga sebagai sumber protein alternatif, berjudul Germany’s Bug Burgers. Di film itu sekelompok ilmuwan dari Belanda berbagi berhasil mengubah larva serangga menjadi pengganti daging dalam burger dan menunjukkan beberapa nama restoran di Belanda dan Jerman yang sudah menjual burger tersebut. Selain film pendek dan feature, festival ini juga akan menampilkan film dokumenter.

Salah satunya adalah Clipton Tomatoes in Space, yang menceritakan kisah pusat penelitian luar angkasa di Bremen, Jerman. Mereka mencoba untuk mengembangkan cara menanam sayuran di ruang angkasa sehingga astronot tidak perlu bergantung pada makanan kemasan. Ada juga film yang berkisah tentang seorang pengusaha Jerman yang memanfaatkan residu minuman kopi untuk menumbuhkan jamur gourmet yang sering digunakan sebagai bumbu di restoran-restoran. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU