© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Instrumenta 2018, Ruang Bermain Seniman Lintas Disiplin

16 Nov 2018

Ryota Kuwakubo ingin sekali membuat sebuah karya seni yang interaktif. Karya yang mampu membuat siapapun bisa berkomunikasi dengannya. Ide itu coba ia lakukan saat menampilkan The Tenth Sentiment dalam festival seni media internasional, Instrumenta 2018: Sandbox di Galeri Nasional, Jakarta.


Kuwakubo membuat benda berukuran kecil yang dipajang berurutan dan membentuk bayangan cahaya seakan hidup. “Saya menggunakan trail yang kecil, yang cahaya dari projector akan membentuk bayangan. Bendanya terkadang terlihat seperti lanskap,” tuturnya. 

Seniman asal Jepang itu memang kerap berkarya menerapkan beragam medium. Seperti digital dan elektronik. The Tenth Sentiment yang dipamerkan ini sebelumnya pernah dipajang di pameran Cyber Arts Jepang di Tokyo pada 2010 silam.


Kuwakubo ingin pengunjung mengalami sensasi suatu pengalaman yang berbeda lewat bayangan-bayangan yang dihadirkan oleh benda-benda tersebut. Instalasi interaktif ini diharapkannya bakal membawa pada sebuah kenangan.


“Karyanya interaktif secara pikiran bukan fisik. Pengunjung tidak akan ke mana-mana atau memutari ruangan, mereka akan melihat pengalaman yang tidak sederhana. Kamu bisa membayangkan sesuatu ketika kamu melihatnya,” ungkapnya. 

Selain karya milik Kuwakubo, pameran ini juga menampilkan puluhan karya lain. Totalnya berjumlah 34 karya, baik milik seniman lokal maupun mancanegara.

 

Seniman yang terlibat dari lintas disiplin dari game designer, musisi, fotografer, serta peneliti. Pengunjung bisa menikmati sekaligus 'bermain' dengan 29 karya seni media yang menggunakan teknologi virtual reality, arcade game, internet, apps, fotografi, video, sampai video cahaya
Direktur Artistik 'Instrumenta 2018: Sandbox', Agung Hujatnikajennong, menuturkan judul pameran 'Sandbox' atau yang berarti bak pasir diadopsi dari genre permainan digital. “Judulnya adalah metafora dari aktivitas bermain bebas dan terbuka,” ujarnya.


Tak hanya pameran, materi festival seni media internasional yang dibuka hingga 30 November itu juga menghadirkan program publik. Di antaranya pertunjukan multimedia, lokakarya permainan untuk orang tua dan anak, lokakarya desain permainan dan coding sampai tur pameran bersama kurator. 

Dikuratori oleh Bob Edrian dan Gesyada Siregar, Instrumenta 2018: Sandbox melibatkan karya dari Ade Darmawan (Jakarta), Adityo Pratomo (Jakarta), Akihiko Taniguchi (Jepang), Alan Kwan (Hong Kong/ China/ AS), Alrezky Caesaria (Bandung), Bagasworo Aryaningtyas (Jakarta), Bandu Darmawan (Bandung), Banung Grahita x Rejeki Pagi (Bandung), Bayu Pratama x Kummara Game Studio (Bandung), Divisi 62 x Evans Storn x Al Imran Karim (Jakarta & Bandung), Evi Nila Dewi (Yogyakarta).


Kemudian ada Hardiman Radjab (Jakarta), Jess Johnson dan Simon Ward (New Zealand/ AS), Julian Abraham Togar (Medan), Mahesa Almeida & Niken Dayu (Jakarta), Moch. Hasrul (Jakarta), Kusno Drajat x Rico Prasetyo (Jakarta & Bogor), Mojiken Game Studio (Surabaya), Ryota Kuwakubo (Jepang), Sarana (Samarinda), Torajiro Aida (Jepang), Toyol Dolanan Nuklir (Surabaya), Raslene (Jakarta), Universe Baldoza (Filipina), UVISUAL (Bandung), Zaini Alif & Komunitas Hong (Bandung). 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU