© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Hikayat Timun Mas dalam Lembaran Kain

20 Nov 2018

Timun Mas merupakan satu dari banyaknya cerita rakyat Nusantara. Dikisahkan, Timun Mas berusaha sekuat mungkin melawan si jahat Buto Ijo. Dalam pelariannya, Timun Mas turut serta membawa biji timun, duri, garam, dan terasi yang ia gunakan kelak untuk melawan Buto Ijo. Dan seperti pada kisah lainnya, cerita ini pun berakhir bahagia dengan kematian Buto Ijo.


Oleh label tekstil Sejauh Mata Memandang, hikayat kisah yang hampir terlupakan itu diangkat kembali dalam lembaran kain. Cerita Timun Mas itu tergambar dalam setiap detail koleksi Sejauh Mata Memandang untuk Musim Rintik 2018.


Label sejauh memang menggunakan istilah Musim Rintik dan Musim Kemarau untuk membagi keluaran koleksi terbarunya di setiap musim di Indonesia yakni musim hujan dan musim panas. 

Founder sekaligus Creative Director Sejauh Mata Memandang Chitra Subyakto mengatakan banyak dongeng nusantara yang anak-anak sudah tidak tahu, tahunya Cinderella. Padahal ada banyak dari Indonesia. “Kami ingin menampilkan cerita Timun Mas itu dan menceritakannya kembali dalam sebuah kain,” kata Chitra.
 

Timnya membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk merancang konsep koleksi Timun Mas mulai dari riset hingga pengerjaan. Hasilnya, detail cerita Timun Mas terangkum dalam setiap lembar kain Sejauh ini. Sama seperti kisah dongeng, Timun Mas dan Buto Ijo tentu saja jadi tokoh utama dalam kain itu. Beberapa binatang seperti burung merak ikut menjadi motif di kain Sejauh termasuk biji timun, duri, garam, dan terasi yang jadi simbol-simbol sederhana pada kain.


Aneka motif dongeng Timun Mas itu dibuat menggunakan kain dari bahan katun sari, katun foal, hingga cupro dengan warna-warna cerah seperti kuning kunyit, hijau, merah, dan biru. Semua bahan ini disebut berasal dari bahan organik. “Warna-warna ini cocok dengan suasana saat ini yang memasuki Musim Rintik, jadi lebih ceria tapi juga tetap timeless,” ucap Chitra. 

Total, koleksi anyar ini terdiri dari dua motif kain yang dibuat dengan batik cap, dua motif kain dari batik tulis dan empat motif dari sablon. Beberapa motif juga dikombinasi dengan bordir tangan.


Kain itu juga dibuat menjadi ragam busana seperti atasan kutu baru berkerah V, kebaya panjang, outerwear, scarf persegi, selendang. Koleksi khusus Timun Mas dengan edisi terbatas juga tersedia seperti selop, topeng, dan buku cerita yang dibuat dari kain dengan tangan. Seperti biasanya, Sejauh Mata Memandang memang tak banyak membuat koleksi busana. Mereka banyak berfokus pada tekstil kain lebar. 

Proses pembuatan koleksi ini dilakukan di beberapa kota seperti Sragen, Pekalongan, Solo, dan Jakarta serta dibantu perkumpulan ibu rumah tangga di Rusun Pesakih dan Marunda.


Dibanding memilih fashion show untuk memperagakan koleksi terbarunya, Sejauh lebih tertarik memamerkan karya itu lewat pameran seni melalui instalasi karya kolaboratif dengan Davy Linggar. “Ini yang ke-empat kalinya lewat pameran. Kalau fashion show Ini kalo fashion show hanya bisa dinikmati kalangn terbatas selama 20 menit saja. Kalau instalasi semua bisa datang dan merasakan sendiri dengan gratis,” tutur Chitra.


Seni instalasi di Senayan City itu membawa pengunjung masuk dalam kisah Timun Mas. Untaian kain yang memenuhi instalasi itu seolah membuat pengunjung tengah berada di hutan, memasuki gua dan ikut mengarungi perjalanan Timun Mas. Hingga 30 November mendatang pameran itu terbuka bagi publik. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU