© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Natura Hominis, Rentetan Manifestasi Para Perupa

20 Nov 2018

Suvi Wahyudianto punya kenangan buruk di masa lalunya. Sebuah peristiwa berdarah tahun 2001 yang dikenal sebagai tragedi Sampit begitu membekas dalam ingatannya. Cecerah darah dan daging manusia serta bau anyir mayat masih menempel erat dalam memori Suvi. Kala itu sebuah konflik horizontal yang melibatkan suku Madura dan Dayak terjadi di Sampit.
 

“Karya ini berbicara tentang bagaimana saya sebagai orang Madura, pernah mengalami suatu konflik tahun 2001, yaitu peristiwa sampit. Memori itu adalah memori yang terus ada sampai dengan sekarang, dan terbawa melihat luka daging begitu. Saya teringat kembali apa yang dialami saya dan etnis saya,” kata Suvi. 

Seniman asal Madura itu menggunakan material resin, plastik, enamel. Tajuk yang diangkat dalam karyanya ialah Angst. Material pada plat alumunium berukuran 100x150 cm dipadukan sedemikan rupa sehingga seakan berbentuk daging merah. Karyanya menarasikan tragedi pengalaman personal dan ingatan sosial atas konflik yang melibatkan sentimen primordial.


Lain Suvi lain pula Seno Wahyu Sempurno. Karyanya bertema instropeksi diri menggunakan material kertas, spidol, dan semir sepatu. Semua momen dari sebuah perenungan dituangkan di atas kanvas berukuran 170 x 200 cm.


“Momen-momen itu saya catat dalam bentuk gambar, dari waktu ke waktu. Melahirkan karya yang terdiri atas klose 288 panel. Tiap panel mewakili suatu proses perenungan yang saya harapkan ibarat padi, semakin tua semakin berisi,” jelas Seno. 

Dua karya tadi menjadi kebanggaan Indonesia karena berhasil menjadi pemenang dalam UOB Painting of the Year 2018. Suvi berhasil memenangkan kategori profesional sementara Seno memenangi kategori pendatang baru. Keduanya, berhasil mengalahkan ribuan karya seniman dari Singapura, Malaysia, dan Thailand.


Karya mereka dipamerkan di Galeri Nasional dengan tema Natura Hominis bersama dengan 50 karya terbaik lainnya. Dewan juri yang terdiri dari Entang Wiharso, Bambang Bujono, Dr Wiyu Wahono menginginkan 50 karya tersebut bisa disajikan dengan satu kesatuan utuh dan berjalin padu. 

Berbeda saat penjurian, dalam pameran ini pemisahan kategori Profesional dan Pendatang Baru dihilangkan. Karya-karya pemenang pun tidak ditempatkan secara khusus atau paling menonjol dalam ruang pamer. Dengan begitu tampak suatu harmonisasi dan kesetaraan di dalamnya.
 

UOB Painting of the Year telah menjadi magnet besar bagi setiap orang yang ingin meniti karir sebagai seniman. Kriteria yang dirujuk juga sangat terbuka sehingga memudahkan untuk ikut dalam kompetisi ini. Seperti yang terlihat dalam seleksi tahun ini dan tahun tahun sebelumnya. karya-karya tinta, cat air dan pensil mendapat tempat sebagai lukisan.


Karya-karya dalam pameran ini secara umum memperlihatkan adanya dorongan kuat para seniman untuk bercerita. Dalam sebagian besar dokumen tertulis yang disertakan pada formulir, cukup mudah menemukan pernyataan seniman yang menjadi manifestasi atau sekurang-kurangnya motif bagi kisah personal maupun komunal. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU