© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Refleksi Perayaan Waktu Lewat Karya Instalasi

14 Jan 2019

Perupa Slamet Abidin punya caranya sendiri menginterpretasikan waktu. Lewat dua karyanya berjudul, Peradaban yang Berlari dan Berubah Karena Waktu, Slamet mencoba untuk mengingatkan kita bahwa waktu yang berjalan tak akan pernah bisa dikembalikan. Hal itu penting bila menghubungkannya dengan kerusakan alam dan pepohonan yang ada di hutan.

Menurut Slamet, merayakan waktu identik dengan perayaan ulang tahun dimana terdapat balon dan kue. Itulah salah satu hal yang menginspirasinya ketika membuat karya instalasi dengan kombinasi balon. Material lainnya adalah kayu sebagai permenungan situasi dunia saat ini. “Pohonan sudah habis digantikan gedung-gedung bangunan, tanpa adanya reboisasi, menanam kembali pohon,” katanya. 

Menurut Slamet, kita sekarang hanya bisa menyaksikan pohon pada taman-taman yang jumlahnya sangat sedikit, dan hanya artifisial saja. Ada pun balon, berangkat dari hanya biasa saja atau tidak berguna menjadi berdaya guna. “Saya buat instalasi memakai kayu dan balon agar lebih menarik,” terangnya.

Karya Slamet Abidin merupakan satu dari sekian banyak karya instalasi yang ada dalam pameran Merayakan Waktu di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Selain Slamet ada pula karya perupa Budi L Tobing, yakni ‘Bongkar’ dan ‘Victory.

Bongkar diciptkan dari pengalaman pribadinya atas kondisi Jakarta saat ini. Lelaki kelahiran Medan itu membeberkan pembuatan instalasi tersebut sebagai wujud dari keprihatinannya terhadap kondisi di ibu kota sekarang. 

“Kampung Pulo atau Kalijodo, tempat hunian yang menurut pemerintah tidak layak tapi bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah menjadi sesuatu yang lain, maka dari itu saya ambil tema faktual dengan menggarap instalasi ‘Bongkar’,“ paparnya.

Dalam memamerkan instalasi Bongkar, Budi tak hanya menghadirkan patung berbentuk orang yang sedang merenung, tapi juga penayangan audivisual yang begitu gamblang menggambarkan pembongkaran. “Audiovisual juga menerangkan secara lebih detail mengenai patung berbentuk orang yang sedang merenung,“ ungkapnya.

Selain instalasi Bongkar, Budi juga menampilkan karya instalasi berjudul Victory. Instalasi ini menyampaikan tentang kebebasan seorang perempuan dengan permasalahan yang dihadapinya. “Saya menampilkan pengalaman pribadi dengan merenung, membuat karya seni patung yang menyampaikan pesan moral kepada masyarakat penikmat yang mengapresiasi karya seni saya,“ tandasnya. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU