© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Saat Kisah Bawang Merah Bawang Putih Disuguhkan A la Broadway

16 Jan 2019

Cerita klasik Bawang Merah Bawang Putih sudah begitu melekat di memori orang Indonesia. Berkali-kali kisah ini disuguhkan dalam beragam medium, seperti teater, komedi, hingga sinema layar kaca. Namun di tangan sutradara Mhya Johanes aka Mhyajo dongeng itu tak sekedar cerita biasa.

Di panggung Taman Ismail Marzuki, Mhyajo menampilkan cerita klasik nusantara itu denga gelaran pop musikal a la teater Broadway. Teater broadway adalah jenis pertunjukkan yang biasa ditanpilkan di panggung pertunjukkan di Broadway, Ney York Amerika. Pementasan teater yang biasa memadukan tari dan musikal. 

Mhyajo menjelaskan, mementaskan tetater a la broadway merupakan sebuah tantangan luar biasa bagi dia dan timnya. Persoalan pertama adalah bagaimana menarik perhatian masyarakat, khususnya generasi milenial untuk datang menyaksikan pertunjukkannya. “Oleh karena itu kami mengemas teater musikal ini secara modern, untuk menarik minat generasi milenial,” kata Mhya. 

 

Namun kemasan yang ingin disampaikan membutuhkan kelengkapan dan tim yang harus menananganinya. Dan itu tidak bisa dikerjakan oleh orang-orang sembarangan. Mhya bersyukur banyak profesional yang mendukungnya tanpa harus membayar mereka secara profesional.

Mereka adalah: penata gerak tari Ufa Sofura yang belum lama ini berkesempatan menjajal pementasan di Broadway, New York; Penata Musik Mondo Gascaro, Indra Prakarsa yang menangani orkestrasinya, dan kostum oleh Kleting.

“Kalau harus membayar mereka, tentu saya enggak sanggup. Untungnya mereka mau membantu saya dengan sukarela,” tutur Mhya. 

Menurut Mhya, pertunjukan Bunga untuk Mira berbeda dengan teater musikal pada umumnya. Dalam pertunjukkan ini dia mengadaptasi cerita rakyat Bawang Merah dan Bawang Putih secara bebas dan dikemas dalam imajinasi fiksi ilmiah. “Saya mengganti nama dua tokoh utama Bawah Merah menjadi Mira, dan Bawang Putih menjadi Puti agar bisa diterima banyak orang. Saya juga akan mengaitkan benang merah kisah yang sama dengan cerita aslinya,” jelas Mhya.

Pertunjukan Bunga Untuk Mira berlangsung secara live orchestra, begitu pula dengan nyanyian dari pemain. Untuk menggarap pertunjukan ini, Mhya menghadirkan tradisi musikal Broadway, dan membebaskan para pemusik untuk memberikan sentuhan apapun.

Pementasan musikal ini akan menampilkan penyanyi Shae, Daniel Adnan, pemain harpa Maya Hasan, dan Johan Yanuar. Dalam pementasan ini, Maya Hasan tidak tampil sebagai pemain harpa, melainkan sebagai tokoh ibu berkarakter antagonis. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU