© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Etnik Nusantara yang Tetap Asyik di Tangan Amdo Brada

26 Jan 2019

Seniman Bambang Widodo alias Amdo Brada memboyong puluhan lukisannya ke Jakarta. Tepatnya ke Balai Budaya. Di sanalah kepala suku Kampoeng Seni Sidoarjo itu membuka tahun baru dengan pameran tunggalnya. Seperti biasa, Amdo tampil dengan gaya khasnya yang dekoratif dan etnik, termasuk lukisan terbesar dengan ukuran 360 x 220 cm.

“Saya memang suka karya-karya dekoratif etnik. Kayak lukisan etnik suku Asmat di Papua itu luar biasa. Primitif tapi asyik,” kata Amdo. 

Karya seni etnik nusantara sudah ia kembangkan sejak merintis kampung seni di kawasan Pondok Mutiara, Sidoarjo. Hampir setiap hari dia menggoreskan cat di atas papan atau media apa saja yang mudah ditemui di sekitarnya. Sebagai penggiat lingkungan, ia kerap membuat desain taman-taman di Sidoarjo.

Jupri Abdullah, kurator pameran mengatakan Amdo sudah lama mengusung konsep recycle dalam aktivitas berkeseniannya. Papan-papan bekas, bahan-bahan yang dibuang di tempat sampah, dia pilah untuk dipakai sebagai media lukisannya. “Di tangan Amdo, barang-barang yang tidak terpakai itu disulap menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Dan itu dia lakukan secara konsisten selama puluhan tahun,” ujar Jupri. 

Karya-karya Amdo yang dipamerkan di Jakarta ini mendapat apresiasi yang luas dari kalangan pengamat dan penggemar seni rupa. Sri Warso Wahono misalnya. Menurut Sri, karya bernuansa etnik khas Amdo memiliki ciri khas dan karakter yang sangat kuat. Dan, setiap kali berpameran Amdo memang selalu memamerkan karya-karya dengan sentuhan etnik Nusantara.

“Amdo tampak amat meyakini khasanah etnik bisa menjadi batu tumpuan kreativitasnya di jagat seni rupa modern/kontemporer. Keyakinan itu dia wujudkan melalui eksplorasi bentuk-bentuk objek yang bernafas etnografis Nusantara,” katanya. 

Secara piktoral, menurut Sri, Amdo membagi bidang datar (kanvas) ke dalam pola hias dekoratif. Berbagai ragam hias terkesan abstrak geometrik dan deformatif berada di sisi tengah, padat bersusun-susun dengan komposisi warna yang kaya. Kuatnya bentuk-bentuk tersebut dipertajam dengan konstruksi tebal.

Sepintas tampak berbagai perwujudan yang sudah dipilih. Misal sosok manusia, ikan, gunung, perkakas, totem, atau patung. Sedangkan pada sisi pinggir yang merupakan latar belakang bentuk bentuk tadi, Amdo memanfaatkan pewarnaan yang bernuansa kontras. “Dengan cara ini, karya Amdo mampu merebut perhatian optik kita,” kata Sri. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU