© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Satir tentang Kepura-puraan dalam Kaum Mata Kancing

27 Jan 2019

Gemas, lucu, namun tetap satir. Begitulah kesan yang muncul saat menyaksikan 23 karya lukis milik I Putu Adi Suanjaya. Seniman yang biasa disapa Kencut itu memamerkan puluhan karyanya pada publik dengan memanfaatkan ruang minimalis milik Kopikalyan. Gelaran ini merupakan pameran tunggalnya yang pertama. Ia menamainya, Kaum Mata Kancing.

Ary Indra, kurator pameran mengatakan, selain menampilkan kesan gemas dan satir, lukisan Kencut konsisten menggunakan figur bonek dan kelompoknya, mahluk bermata kancing ang menolak memandang rupa dunia. Karya-karya yang ditampilkan Kencut menawarkan pendekatan yang segar dan eksploratif. Ide dan narasi visual yang dituangkan ke atas kanvas pun terbilang menarik. 

Ary juga bercerita, ide tema pameran 'Kaum Mata Kancing' keluar dari obrolan antara kurator dan tim grafis lainnya. Menurutnya, tokoh-tokoh yang dihadirkan Kencut pulasan raut muka boneka seperti menghindar dari kemungkinan tumbuh menjadi pendosa. “Kata kaum mata kancing ini tiba-tiba keluar, tokohnya seperti menolak menjadi pendosa. Karyanya satir kayak manusia yang berpura-pura,” ujarnya.

Sementara itu, sang pameris, Kencut mengatakan bahwa 'mata kancing' punya arti tersendiri. Mata sebenarnya adalah cara agar melihat seseorang senang atau sedih. Namun karena memakai kancing maka obyek-obyek tersebut tidak diketahui perasaannya. “Ya agak menyembunyikan perasaan mereka, ada adegan yang menutupi dirinya,” katanya. 

Ia mencontohkan lukisan berjudul Life is About Challenge yang merupakan salah satu dari seri 'penjaga'. Di salah satu tangan obyek, ia memegang sebilah pisau namun berdiri di atas tumpukan obyek lainnya. Ada juga obyek yang menceritakan tentang aktivitas tidur nyenyak atau lukisan K.O yang obyeknya tampak kelelahan. Segala peristiwa yang digoreskan Kencut punya cerita di baliknya.

“Tentang hubungan sosial di masyarakat, ketika nggak kuat dengan apa yang ada di lingkungan kayak punya banyak beban dan membuat putus asa,” lanjut Kencut, “Siapapun yang menginterpretasikan, ya terserah-terserah saja. Saya harapnya karya saya diapresiasi dan mereka punya beragam respons. Apalagi kalau bercermin dengan karya saya,” tukasnya. 

Pameran ini dibuka hingga 9 Februari mendatang. Warna pink, ungu, merah, dan warna kontras lainnya di area kedai kopi menjadi daya tarik tersendiri di fokus kekaryaan Kencut. Instalasi boneka-boneka Kencut pun ditambah dan terselip berada di bagian atas kedai kopi. Para pengunjung pun bisa mencoba sensasi augmented reality experience di beberapa lukisan yang memiliki tanda huruf 'ars'. 

Please reload

Seek-a-seek #2 Merespon Tantangan di Dunia Desain Grafis

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU