© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Independensi Perempuan dalam Lakon Kaeru

6 Feb 2019

Kirana bukanlah gadis biasa pada zamannya. Ia lahir di masa imperalisme Belanda. Ketika beranjak dewasa, bayangan kemerdekaan dan hidup menjadi bangsa yang bebas sudah melekat di pikirannya. Hampir saja semua itu jadi kenyataan tatkala pasukan Belanda menyerah tanpa syarat pada pasukan Nippon.

Ya, negeri Matahari Terbit itu seolah hadir menjadi penyelemat dan pembawa harapan baru. Seperti slogan yang selalu mereka gemborkan pada kaum pribumi, termasuk Kirana. Ah, betapa bahagianya gadis itu dengan bayangan kemerdekaan yang sudah ada di depan matanya. Bukan tanpa sebab, dalam diri Kirana memang sudah kental darah manusia yang independen. 

Itulah sebabnya Kirana begitu mati-matian menghindari perjodohan yang dilakukan orangtuanya. Adalah Gilang, bangsawan muda nan tampan, putra seorang pemilik pabrik gula. Gilang diam-diam menyimpan rasa pada Kirana dan berharap gadis itu mau menjadi istrinya. Namun sepertinya, segala kemolekan dan kekayaan itu tak bisa membendung mimpi dan ambisi Kirana.

Terlalu banyak mimpi yang ingin ia kejar terutama ambisinya menjadi seorang musisi. Di tengah kebimbangan dan rasa takut akan perjodohan, datanglah sosok Hiro dalam hidup Kirana secara tidak sengaja. Sebagai seorang tentara Nippon yang setia, cara pandang Hiro terhadap dunia membuat kagum Kirana. 

Dirinya seolah menemukan kebebasan sejatinya, di mana selama ini Kirana merasa terjajah oleh adat istiadat di rumahnya. Hiro memiliki pola pikir yang bebas, kata-katanya bagaikan melodi yang dapat menyapu segala kegundahan hati Kirana. Namun, kisah ini tidak akan seindah sinopsis di atas, kisah ini akan berjalan menarik bila ada pihak ketiga yang mencoba memisahkan hubungan antara Kirana dan Hiro.

Unik bukan? Kirana, Hiro, dan Gilang. Cinta segitiga antara dua bangsa; penjajah dan terjajah. Dilema akan sebuah hati dan cinta serta idealisme akan sebuah kemerdekaan. Buntut cerita mereka berujung pada era 1960an saat Indonesia sudah berdiri menjadi negara yang merdeka. Itulah penggalan kisah menarik yang disajikan kelompok teater Perkumpulan KataK yang kali ini kembali tampil dalam lakon berjudul, Kaeru: Titik Dua di Akhir Nada. 

Ini adalah pementasan KataK yang ke-5 sekaligus penampilan perdana dengan naskah original buatan anggota KataK. Pementasan kali ini disutradarai oleh Venantius Vladimir Ivan dengan sajian 18 musik indah yang juga mereka ciptakan sendiri. Pesan utama yang ingin diangkat adalah bagaimana kaum perempuan di setiap zaman punya mimpi yang ingin mereka capai. Mimpi itulah wujud dari kemerdekaan setiap perempuan. Kemerdekaan untuk menentukan siapa dan akan jadi apa mereka.

Butuh waktu enam bulan lamanya bagi Perkumpulan Katak untuk mempersiapkan pentas ini. Kerja keras itu terbayar lunas dengan performa yang apik dari tiap pemain dan kru pendukungnya. Khusus pentas ini, kelompok teater Universitas Multimedia Nusantara itu bahkan sampai membuka audisi bagi mahasiswa non-UMN. Hasilnya, pentas yang berkelas di panggung Gedung Kesenian Jakarta! 

Please reload

Seek-a-seek #2 Merespon Tantangan di Dunia Desain Grafis

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU