© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Wayang, Kupu-kupu, dan Bunga di Goresan Sasya Tranggono

20 Feb 2019

Enam buah wayang golek seukuran tubuh manusia terpasang di depan sebuah lukisan di Galeri Nasional, Jakarta. Jika diperhatikan, karakter si wayang, batik yang dikenakan, hingga gesture mirip dengan lukisan Waiting For Happines yang terpajang tepat di belakangnya. Karya itu hasil karya tangan Sasya Tranggono yang dibuat pada 2003 silam.

Sepanjang karirnya dalam dunia seni rupa, Sasya memang kerap kali menggunakan wayang golek dan batik sebagai figur. Ia seperti sedang menyutradarai sebuah pertunjukan teatrikal, menata para pemain, dan melukisnya untuk kemudian menampilkan narasi yang mengiringi. Seperti yang terwujud juga dalam lukisan lain berjudul, Yesus rasa Jowo. 

Sasya terinspirasi dari karya milik legenda, Leonardo da Vinci berjudul Last Supper atau Perjamuan Terakhir. Bedanya, Sasya menampilkan ke-12 rasul bergaya seperti wayang golek, berpakaian khas Jawa serta mengenakan kain batik. “Agak deg-degan juga saat melukisnya, tapi ternyata respon pencinta seni dari Eropa banyak yang menyukainya,” ujar Sasya.

Karya Sasya adalah karya yang mempraktikkan seni lukis still life. Kecenderungan yang sangat lama pada perkembangan seni lukis, namun ada kekuatan narasi yang muncul melalui konsep teatrikal. Di Galeri Nasional, ia menggelar pameran tunggalnya dengan tajuk Cinta untuk Indonesia. Anda akan melihat perjalanan 30 tahun karir dan transformasi gaya melukisnya dengan tiga tema; wayang, kupu-kupu, dan bunga. 

Menurut kurator Jim Supangkat, pengulangan ini menunjukkan makna ungkapan Sasya yang menunjukkan tanda-tanda refleksi dan diungkapkan dengan sangat berhati-hati. Sasya Tranggono bukanlah seniman yang belajar pendidikan seni rupa. Dia salah satu seniman yang belajar secara otodidak dan masih bertumpu pada tradisi. Karyanya mampu memperlihatkan gejala post tradisi di luar Eropa dan Amerika Serikat yang tidak bisa disebut sebagai karya-karya tradisional. Namun, tetap memperlihatkan pengaruh estetik tradisi.

Semakin ke sini, kata Jim, Sasya semakin berani melakukan eksplorasi tanpa meninggalkan karakter awalnya. Ambil contoh, dalam karya Waiting For Happines, lukisan Sasya bisa dikatakan minim variasi. Tapi di karya-karya terbarunya seperti Your Hidden Glory in Creation, Sasya membuat lukisan yang diisi oleh pernak-pernik batuan yang membuat lukisan tersebut lebih bercahaya. 

Meski begitu, secara umum Sasya masih konsisten menampilkan warna-warna yang cenderung pucat dengan gradasi warna sangat halus. “Suasana warna ini memperlihatkan artistic sensibilities yang meraba dan membangkitkan kesan gumam yang maknanya tidak sepenuhnya jelas,” kata Jim.

Pameran Cinta untuk Indonesia akan hadir di Jakarta hingga 10 Maret mendatang. Setelah itu, kata Sasya, sepanjang 2019 ia bakal memboyong puluhan karyanya ke Eropa dan Amerika Serikat. Beberapa tempat yang menjadi rencana tur selanjutnya adalah Leiden Museum Volkenkunde, Tropen Museum Amsterdam, dan Museum Fundacao Oriente, Lisbon, Portugal. Di akhir perjalanan pameran keliling ini, karya-karyanya akan ditampilkan di New York, Amerika Serikat pada sebuah acara fashion show.     

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU