© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Memedi Sawah dan Sebuah Pasar Ketakutan

27 Feb 2019

Buat sebagian besar orang, terutama mereka yang menghabiskan kesehariannya bekerja di sawah, Memedi Sawah bukanlah hal aneh. Para petani biasa membuat memedi atau orang-orangan sawah untuk menakuti hama yang menganggu area persawahan mereka. Bagi seniman seperti Hari Budiono, memedi ini justru jadi simbol teror, terutama bila dimaknai dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini.

Sebuah ironi ingin disampaikan Hari dalam pameran bertajuk, Memedi Sawah di galeri Bentara Budaya Jakarta. Bagaimana sebuah memedi yang awalnya bertugas menjaga malah justru jadi pengganggu dalam suatu lingkungan. Seperti sebuah karya lukis milik Hari berjudul, Babi Tanah 2019. Hari melukiskan seekor babi berbulu kecokelat-cokelatan. Babi itu berada di tengah suasana tanah yang gelap dan muram. Pada suasana yang muram itu tertera pelbagai tulisan, yang tak bisa jelas terbaca. 

Tulisan itu adalah celoteh pelbagai omongan yang tak terkontrol dan kabar bohong. Maka awas, tahun babi tanah ini adalah tahun gelap dan muram, karena dipenuhi dengan kata-kata bohong. Seperti babi yang tak berkutik karena tertimpa gelapnya tanah, kebenaran jadi sulit menyelinap di tengah gelapnya kebohongan. Lukisan itu jelas sebagai satir situasi politik dan sosial masyarakat Indonesia menjelang Pemilu tahun ini.

“Memedi Sawah menjadikan kita saling curiga, saling membenci, saling tak menghargai, selalu merasa menang dan benar sendiri, sehingga kita menjadi manusia intoleran,” ujarnya.

Untuk mengimajinasikan ketakutan yang ditimbulkan oleh Memedi Sawah itu, Hari menampilkan beberapa lukisan lagi. Di antaranya adalah Manusia Bertopeng. Manusia ini mempunyai banyak topeng yang rupanya tenang, sabar, bijak, sampai yang alim. Ia bisa berganti-ganti topeng, sesuai dengan kebutuhan dan situasinya. Namun kali ini ia mengenakan topeng yang menakutkan, maklum tahun ini ketakutan paling laku dijual di pasar. 

Di pasar, ketakutan bisa diancamkan pada massa untuk membuat mereka panik. Tapi massa tidak hanya bisa jadi obyek ketakutan. Massa malah bisa dijadikan subyek atau sumber ketakutan. Caranya gampang, cukup dengan menyulut api kemarahan mereka. Seperti digambarkan Hari dalam karya berjudul, Meletus Balon Hijau, Dor!, agresi massa untuk menebar ketakutan takkan lagi bisa tertahankan.

Meski begitu, bagi Hari ketakutan yang muncul dalam simbol memedi bisa dilawan. Sebuah karya instalasi berjudul Jangan Takut Memedi Sawah buatannya menjadi satu titik harapan bahwa selalu ada ruang untuk perubahan. Ia terdiri dari 115 orang-orangan sawah yang memegang lukisan wajah tokoh sedang tertawa dan syair lagu Ibu Pertiwi.

Kurator pameran, GP Sindhunata dalam pengantaranya menuliskan, Memedi Sawah itu jadi tidak menakutkan lagi, mereka telah tertawa dengan tawa manusia Indonesia, mulai dari presiden sampai rakyat biasa. “Memang, ketakutan sosial hanya bisa dikalahkan dengan tertawa bersama-sama. Ketakutan itu memecah belah, sedangkan tertawa itu menyatukan,” tulisnya. 

Pengamat seni dan juga kurator Bentara Budaya, Efix Mulyadi menambahkan langkah kreatif Hari Budiono boleh ditafsirkan sebagai upaya meruwat kehidupan bersama yang terus menerus terancam "Memedi Sawah masa kini" yang bermunculan dari segala penjuru. Di sisi lain, 10 karya lukisannya turut pula menjadi cerminan kritik sosial sang perupa atas situasi yang berkembang di masyarakat.

Pameran lukisan dan instalasi karya Hari Budiono masih terbuka untuk publik hingga 23 Februari mendatang. Mampirlah sejenak dan usirlah ketakutkan itu!     

Please reload

Ratapan Melanesia tentang Lingkungan yang Rusak

Excursio, Sebuah Perjalanan Artistik Para Seniman

Kreasi Visual yang Merayakan Keberagaman

Menyoal Pengalaman Integrasi Seniman di Negeri Orang

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU