© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Karya Seni yang Melampaui Keterbatasan

14 Mar 2019

Jane Gabriella dan Mahadana Trayusa merupakan dua anak berbakat yang mampu melampaui keterbatasan. Meski mereka harus hidup sebagai anak berkebutuhan khusus, bakat seninya mampu mengangkat dua nama tadi ke pentas seni dunia. Jane merupakan finalis UOB Painting Competition sementara lukisan Mahadana sudah dibawa keliling Eropa oleh Ibu Beatrize Chivite, mantan Atase Kebudayaan Kedutaan Spanyol di Jakarta 2018.

Dua anak ini merupakan hasil didikan Daya Pelita Kasih Center. Bekerjasama dengan Erasmus Huis, Jakarta mereka mengadakan pameran seni anak berkebutuhan khusus dengan tajuk, Painting for Better Future. Selain Jane dan Mahadana ada 14 anak lain yang ikut menjadi pameris. 

Mereka adalah Aurelie Sari Puteri Wirananda, Alfonsus Dalay, Banu Gunottama, Basmarahman Daulat, Bima Ariasena Adisoma, Daya Olivia Korompis, Diego Luister Berel, Fero Adhi Mada Sardjono, Gita Anggraeni Cahyono, Indhy Mutiarahmah, Kemas R. A. Ilyas Nurhadi, Seto Swastiko, Vera Van Till, dan Wilson Luhur.

Pameran ini menampilkan beragam kreasi seni dalam bentuk lukisan, keramik, topeng kertas, batik, handicraft, dan kerajinan menjahit. Katharina, pendiri Daya Pelita Kasih Center mengatakan lukisan anak didiknya banyak dikoleksi penikmat seni dari dalam dan luar negeri, diantaranya Inggris, Belanda, Australia, Singapore, Malaysia, dan Amerika.

Katharina menjelaskan, khusus Visual Arts, program pembelajaran yang diberikan berupa menggambar, melukis, keramik, kerajinan tangan, batik hingga digital art. Dalam pembelajarannya, Daya Pelita Kasih Center menekankan pada art therapy yaitu sebagai sarana terapi bagi motorik halus dan kasar, serta menyalurkan ekspresi dan emosi psikologis. 

Para siswa, menurutnya, menjadikan kegiatan melukis tidak sekadar menorehkan warna di atas kanvas, namun mempunyai makna sebagai luapan saat marah, gembira, rindu, cemburu, kesendirian bahkan pada beberapa anak mampu merekam peristiwa lampau dan akan datang.

“Kami menyadari bahwa setiap anak adalah spesifik, unik dan berbeda satu sama lainnya. Untuk itu, lukisan yang dihasilkannya juga beragam, sesuai dengan karakter dan spesifikasi anak,” jelasnya.

Kecenderungan hasil lukisan anak dengan berkemampuan komunikasi (mampu berbicara) hasil lukisannya termasuk dalam aliran Realis atau Naturalis. Salah satu tehnik realis yaitu memberi warna, detail pada warna dan obyek, berlapis-lapis serta berulang-ulang membutuhkan kesabaran dan kedisiplinan yang tinggi bagi anak didik kami. Dan mereka sedang menuju kearah kesempurnaan itu. 

Sedangkan anak dengan kemampuan berkomunikasi terbatas bahkan tidak mempunyai kemampuan berkomunikasi verbal, lukisan mereka cenderung Abstrak, Ekspresionis atau Impresionis. Ada kalanya gabungan ketiganya.

“Mereka bebas berekspresi mengungkapkan segala perasaan dan semangatnya melalui lukisan yang seakan tidak berwujud jelas obyeknya. Kami tidak berpijak pada satu aliran, karena karya seni mereka adalah ungkapan ekspresi jiwa sebagai sarana berkomunikasi dengan khalayak,” tambahnya.

Pembukaan pameran sudah berlangsung pada 20 Februari lalu dan akan dibuka untuk umum hingga 15 Maret mendatang.     

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU