© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Menengok Eksistensi Mazhab Bandung di Galeri Salihara

25 Mar 2019

Bandung bukan hanya dikenal sebagai kota bersejarah melalui kisah Bandung Lautan Api. Kota ini sering kali menelurkan seniman-seniman handal, termasuk dalam dunia seni rupa. Di Galeri Salihara, para seniman Bandung yang tergabung dalam ArtSociates mempersembahkan pameran bertajuk, Poros Bandung.

Cukup provokatif bukan! Ya, pameran yang diramaikan 26 karya dari 22 seniman itu memang sengaja menjadi provokasi ketimbang menjelaskan. Bagi sebagian orang yang bekerja dan berkarya di lingkungan Seni Rupa ITB, judulnya tak hanya menyiratkan tentang 'apa' tapi soal 'bagaimana' dan 'untuk apa'. 

Kurator pameran, Rizki A Zaelani mengatakan sebutan kata 'Bandung' di tema ini juga berkaitan dengan permasalahan 'Mazhab Bandung'. “Kami hendak menyegarkan kembali ingatan bahwa soal Mazhab Bandung bukan hanya alur peristiwa tapi juga tentang cara penafsiran,” tutur Rizki dalam keterangan pers.

Eksibisi ini dinilai sebagai upaya ulang untuk membentuk kerangka peristiwa dan penafsiran sebagai alur perkembangan seni rupa. “Karya yang ditampilkan juga menunjukkan rentang jejak perkembangan seni rupa Bandung yang cukup panjang dan dikerjakan oleh mereka dari generasi yang berbeda,” lanjutnya. 

Artsociates sendiri merupakan sebuah lembaga yang menyelenggarakan anugerah seni kepada seniman muda Indonesia pilihan, yaitu Bandung Contemporary Art Award (BaCAA). Bulan lalu mereka baru saja mengadakan pameran dan agenda tahunan. Bisa jadi, pameran di Salihara menjadi kelanjutan atas penegasan eksistensi Mazhab Bandung yang dimaksud Rizky tadi.

Menurut Rizky yang juga menjadi kurator pada pameran BaCAA, karya seni kontemporer seniman BaCAA bisa diperbandingkan dengan platform kontemporer yang ada di level global. Dengan cara begitu, makin ke sini karya peserta pameran menguatkan kemunculan karya yang referensial, kalau tidak referensial bagaimana karyanya bisa bersaing secara global. 

“Dan bisa dikatakan bahwa karya-karya yang dipilih cenderung menampilkan karya-karya conceptual art,” ucap Rizki.

Seniman yang berpartisipasi di pameran Poros Bandung antaranya adalah Abay SUbarna, AD Pirous, Agung Fitriana, Agus Suwage, Ahmad Sadali, Arin Dwihartanto, But Mochtar, Etza Meisyara, Faisal Habibi, G.Sidharta Soegijo, Hariadi Suadi, Joko Avianto, Mochtar Apin, Mujahidin Nurahman, Nyoman Nuarta, Popo Iskandar, Rita Widagdo, Sunaryo, Umi Dachlan, Wiyoso Yudhosaputro, Yusuf Affendi, dan Zico Albaiquni. Pameran Poros Bandung berlangsung pada 2-31 Maret 2019 di Galeri Salihara, Jakarta Selatan.     

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU