© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Interpretasi Monster dalam Imajinasi Pramuhendra

28 Mar 2019

Wujud monster selalu digambarkan dengan sosok seram dan tidak jelas. Karakternya yang selalu menghantui manusia seakan jadi simbol bahwa ia adalah bagian dari ketakutan. Bagi seniman J. Ariadhitya Pramuhendra, ketakutan dari sosok monster inilah yang justru menjadi inspirasi karya seninya.

Pramuhendra mengartikan monster sebagai pengalaman masa lalu yang jadi kenangan, serta perantaan perjalanan masa depan. Suatu interpretasi yang terbilang unik. Pramuhendra menggelar pameran tunggalnya bertajuk The Monster: Chapter II Momentum di Galeri Nasional, Jakarta. Pameran itu berkaitan juga dengan sejarah peradaban Kristen dan pengalaman masa kecilnya, yang tercermin dalam ekspresi seni rupa Barat. 

“Kalau anak kecil selalu punya imajinasi dunia sendiri tentang monster, yang tidak selalu menyeramkan. Nah di pameran ini menggambarkan pula sebuah imajinasi dan hal yang menghantui saya,” ucapnya. 


Pramuhendra menggunakan materi arang atau charcoal, supaya para pengunjung gampang melihat bayangan dan imajinasi yang dituangkan. Menariknya, pameran ini adalah bagian dari Trilogi Pameran yang dipamerkan dalam tiga ruang yang mumpuni. Mulai dari Gedung A, Gedung B, serta area outdoor. 

Ketika memasuki satu per satu ruang pamer dan benar-benar menakjubkan. Suasananya bertajuk hitam dan putih, seolah sama dengan monster yang selalu membayangi pikiran. Kurator Rizki A Zaelani menjelaskan, dari pertama masuk di area galeri, terdapat potongan arang besar menyerupai gerbang setinggi 5 meter. Karya ini menggambarkan potongan arang namun dikombinasikan dengan konstruksi.

“Masuk ke galeri utamanya pengunjung disambut oleh paus telungkup. Ketika diangkat menjadi paus selalu menandakan kehilangan keinginan, jadi selalu mencium tanah,” kata Rizki. 

Masuk ke dalam ruang utama, nuansa sejarah peradaban Kristen dan Katolik, yang alurnya sesuai dengan lini masa Renaissance. Beberapa komponen mengingatkan kepada suasana gereja dengan altar dan lilin-lilin yang menyala. Dari keseluruhan karya terinspirasi dari fresco di gereja. Dari keseluruhan karya, benar-benar memukau dan banyak kejutan di dalamnya. Kalau Anda belum ada ide akhir pekan ini bakal kemana, yuk buktikan sendiri keindahannya.

Pameran dihelat untuk umum mulai 23 Maret 2019 sampai 7 April 2019. Buka mulai pukul 10.00-19.00.   

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU