© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Bokal, Paduan Sastra Lisan dan Silat dari Kampar

29 Mar 2019

Tiga penari dan dua pemusik menguasai arena (panggung) dengan komposisi yang senantiasa bergerak. Karya ini serupa ‘jalan sunyi’ untuk mengembalikan aku ke dalam diri. Pertunjukan itu dihadirkan dalam program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia di Galeri Indonesia Kaya. Orang mengenalnya dengan sebutan Bokal.

Bokal merupakan sebuah pertunjukan tari berdurasi 60 menit dengan koreografi karya Wan Harun Ismail alias Iwan Ocu dari Wan Dance Studio. Dalam bahasa Kampar, Bokal berarti bekal atau perbekalan. Ia merupakan interpretasi dari makna dan filosofi dari sastra lisan dan silat yang terdapat dari daerah tersebut.

Menurut Iwan, pertunjukan ini mencoba untuk menafsirkan Bokal sebagai sebuah upaya membentengi diri terhadap hal lain yang dapat merusak sistem dan pemahaman berdasarkan agama dan adat. “Pemahaman karya Bokal jauh lebih kepada persiapan membentengi diri menghadapi kehidupan berdasarkan aturan agama dan adat istiadat,” ujar sang koreografer. 

Iwan menjelaskan, silat hadir sebagai susatu yang sangat kompleks bagi manusia jika hal ini berhasil di implementasikan. Silat yang menjadi sumber karya Bokal merupakan sebuah bentuk kesenian tradisi yang berada “paling’ dekat dengan koreografer. Silat yang hadir merupakan sebuah bentuk eksplorasi dari bentuk asli yang mengalami penyesuaian dengan konsep Bokal.

Gerak yang hadir merupakan hasil dari pengolahan bentuk dan nilai yang coba di ungkapkan, tetapi juga memberikan “kekuasaan “ kepada tubuh penari untuk hadir menerjemahkan gerak tanpa harus menjadi robot.

Sementara itu dari segi kostum, Iwan sengaja menghadirkan dengan menggunakan dua bentuk. Memberikan sebuah tawaran akan simbol kesucian yang diwakili kostum warna putih dan simbol kekinian dengan kostum warna hijau dengan memainkan garis-garis pada bentuknya. 

Komposisi yang hadir pada karya ini juga tak lepas dari pada nilai dan falsafah silat yang menitikberatkan pada garis vertikan dan horizontal antara manusi dengan manusi dan manusia dengan Sang Khalik. Ini terjadi akibat pencarian benang merah antara silat dan sastra lisan. Pertemuan dua “kekuatan” yang sangat begitu kuat ini jika diamati memang silih berganti saling kait mengkait sehingga membentuknya menjadi pola “perebutan “.

Bokal menjadi satu dari karya yang terpilih untuk tampil di Galeri Indonesia Kaya hingga April mendatang. Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, Wan Dance Studio mengangkat kebudayaan masyarakat Kampar, Riau melalui pertunjukannya. Penampilannya ini juga bertujuan untuk mengajak penikmat seni untuk mengenal adat istiadat kebudayaan masing-masing di daerah yang ada di Tanah Air.

“Wan Dance Studio mengangkat kebudayaan masyarakat di Kampar, Riau yang sangat erat dengan adat istiadatnya. Melalui penampilannya di Galeri Indonesia Kaya, Wan Dance Studio ingin mengajak kita untuk memaknai adat istiadat kebudayaan masing-masing daerah yang ada di Indonesia. Kami harap, pertunjukan Bokal dapat menjadi salah satu cara untuk mengenalkan penikmat seni tentang tradisi dan kekayaan budaya yang ada di Indonesia terutama di Kampar, Pekanbaru,” jelasnya. 

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU