© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Sebuah Metamorfosa Lima Seniman Muda

21 Apr 2019

Arsiran dan pulpen. Dua hal itulah yang menjadi andalan Rega Ayundya Putri, saat terlibat dalam proyek pameran Metamorfosis. Dengan tekun, lulusan Seni Patung, ITB itu mengarsir satu per satu karyanya hingga mampu menghiasi dinding kamar Artotel, Wahid Hasyim. Arsiran Rega yang bergaya surealis menampilkan motif dari jamur, sel darah dalam tubuh, urat nadi, dan sebagainya.

Di salah satu gambar ada bentuk simetris yang itu adalah pola dari salju. Ada juga gambar yang seperti alur dan itu adalah urat nadi, di sisi lainnya ada bentuk bulat juga yang berasal dari jamur maupun tumbuh-tumbuhan. Rega kerap membuat karya-karya berukuran besar dengan arsiran tekun tangannya serta menggunakan media pulpen tertentu. Karya yang detail dan rumit itu berasal dari dialog personal yang muncul dari alam bawah sadarnya. 

Bagi Rega itulah caranya bermeditasi dan menenangkan pikirannya yang tak menentu. Selama 82 hari pula, ia melukis gambar-gambarnya tersebut satu per satu di dalam kamar hotel. “Gambar-gambar ini tuh foto dari mikroskop organisme dalam tubuh. Kalau dilihat badan manusia itu tuh ada organik pattern-nya. Sel darah tubuh juga, badan kita kayak ada universal layer pattern-nya,” kata Rega.

Selain Rega, ada empat seniman lain yang ikut terlibat dalam proyek ini. Karya-karya mereka bisa dilihat di artspace yang memajang instalasi besar karya Lala Bohang yang sebelumnya pernah dipajang di Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) 2018, juga lukisan Restu Taufik Akbar. 

Direktur Seni Artotel Group, Windi Salomo, menuturkan tema tersebut dianggap tepat diusung. “Metamorfosa ibaratnya kalau serangga itu ada life circle dari yang kecil, buat kami konsep ini tepat. Kami tantang para seniman lokal untuk berbicara mengenai metaforsosis menurut mereka,” ujar Windi Salomo.

Contohnya saja, ia menyebutkan karya dari seniman asal Bandung, Restu Taufik Akbar. Restu punya ciri yang menarik, cara dia melukis yang membiarkan cat arkilik mengalir sampai ada bentuk satu yang menarik. 

“Kelima seniman ini memang yang kami seleksi untuk mengangkat seniman lokal yang ada di Jakarta dan Bandung,” tukasnya.

Tak hanya di artspace dan lobi hotel, karya para seniman juga berada di puluhan kamar yang tersebar di dalamnya. Hotel yang desain interiornya terinspirasi dari seni itu memang mengaplikasikan beragam unsur seni rupa di setiap sudut hotelnya. 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU