© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Arah Seni Rupa Indonesia Pascatradisionalisme

5 May 2019

Tahun 2019 menjadi waktu yang dipilih Galeri Nasional untuk menyelenggarakan Pameran Seni Rupa Nusantara untuk kali kesepuluh. Kali ini ada 55 karya dari 55 seniman yang ikut dipamerkan dengan tajuk, Kontraksi: Pascatradisionalisme. Istilah 'kontraksi', menurut para kurator diartikan sebagai proses mempersingkat kata dengan kombinasi dan peniadaan bunyi dalam ucapan.

“Maka 'kontraksi' dalam pameran ini dimaksudkan sebagai sebuah pergulatan luar biasa sesuatu tanda dari berbagai proses kombinasi. Dari pergulatan itu memungkinkan lahirnya tanda baru,” ujar salah satu kurator, Asikin Hasan. 

Kelahiran tanda baru akan terus berulang-ulang mengikuti hukum alam sepanjang masa. Persoalan apakah yang baru akan sama dengan yang lama atau lain sama sekali adalah kehendak yang harus kita terima sebagai sebuah proses dialektika. Modernisme dalam seni menghasilkan spirit shock of the new, di mana menyuguhkan ‘kebaruan’ adalah ukuran utama dalam perkembangan seni.

Namun untuk masa kini setelah modernisme mengalami krisis, spirit shock of the new berakhir dengan tanda tanya: benarkah seni rupa masa kini lahir dari gagasan baru? Seiring dengan pemikiran postmodernisme yang memandang karya seni sebagai sebuah teks yang teranyam dengan teks-teks lainnya, maka menarik kiranya untuk melihat kembali kaitan gagasan penciptaan karya masa kini dengan gagasan tradisional yang sesungguhnya, dalam keyakinan tim kurator: terus berkembang. 

Tradisionalisme di Indonesia berjalan dengan laju perkembangan modernisme sebagai negara-bangsa poskolonial, walau keduanya berbeda konsep, namun pada praktik sosial kulturalnya bercampur baur membentuk rangkaian gagasan dan praktik yang tak terhingga.

Dari penjelasan tersebut, maka konteks pascatradisionalisme yang dimaksud tim kurator dalam pameran ini mengisyaratkan kesadaran untuk tidak terjebak pada ‘keadiluhungan’ dan kolektivisme sempit, alasannya bahwa yang nonadiluhung pun punya derajat sama dalam ranah seni kontemporer.

Tim kurator juga menelisik fenomena keterampilan dalam berkarya para seniman muda. Menurut Asikin, dalam kesadaran pascatradisionalisme seniman menjadi orang yang bebas berkreasi, menafsir tradisi, dan berempati dalam semangat kolektivisme. 

Dari 55 seniman, 36 di antaranya merupakan hasil seleksi 886 karya dari 677 seniman melalui pendaftaran terbaru. Sedangkan 19 seniman lainnya adalah undangan khusus dari Galeri Nasional Indonesia.

Seniman yang berpameran di antaranya adalah Ajeng Martia Saputri, Arman Arief Rachman, Danni Febriana, Enggar Rhomadioni, Eunike Nugroho, Galih Reza Suseno, Heri Dono, I Made Djirna, I Wayan Sujana Suklu, M. Lugas Syllabus, Melati Suryodarmo, Nandanggawe, Nasirun, Nindityo Adipurnomo, Rahaya Retnaningrum, dan lain-lain. Eksibisi berlangsung hingga 12 Mei mendatang di Gedung A,B, C, dan D Galeri Nasional Indonesia. 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU