© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

‘Lost Verses’, Paviliun Indonesia di Ajang Venice Biennale 2019

20 May 2019

Venice Biennale merupakan ajang seni rupa tertua dan terbesar di dunia. Sebuah kebanggan bisa berpartisipasi di sana. Seperti capaian yang dihasilkan tim Indonesia melalui paviliun bertema Lost Verses: Akal Tak Sekali Datang, Runding Tak Sekali Tiba. Asmujo Jono Irianto, Yacobus Ari Respati, Syagini Ratna Wulan, dan Handiwirman Saputra merupkan anggota tim artistik yang ada di belakang kreasi itu.

Hingga 24 November mendatang, paviliun Indonesia yang resmi dibuka pada 8 Mei lalu akan meramaikan agenda Venice Biennale. Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf mengatakan bangga melihat seni rupa kontemporer Indonesia hadir di Venice Biennale yang ke-58 ini.

“Paviliun ini merupakan representasi dari ciri khas bangsa Indonesia yang mengutamakan kebersamaan dalam keragaman—bhinneka tunggal ika,” ujar Triawan. 

‘Akal tak sekali datang, runding tak sekali tiba’ merupakan sebuah peribahasa asal Minang yang diadaptasikan oleh tim artistik menjadi serangkaian instalasi. Ada lima komponen karya di sana, yakni Meja Runding, Buaian, Susunan Kabinet, Ruang Merokok, dan Mesin Narasi.

Kelima komponen karya ini mengisi area seluas 500 meter persegi di Ruang 340, Isolotto, The Arsenale—yakni area pameran yang merupakan bekas gudang persenjataan tertua di Venesia.

Di sana, pengunjung paviliun Indonesia diundang untuk menikmati karya yang hadir layaknya labirin pemikiran melalui objek-objek yang ditampilkan, representasi dari ide-ide artistik Indonesia dan persilangannya dengan seni rupa kontemporer dunia. Ini selaras dengan tema besar Venice Biennale 2019, yakni May You Live in Interesting Time. 

Penyelenggaraan paviliun Indonesia ini merupakan satu dari ragam bentuk upaya Bekraf untuk mendorong keberlangsungan ekosistem ekonomi kreatif, termasuk subsektor seni rupa, di Indonesia. Selain itu, kehadiran Paviliun Indonesia ini juga sejalan dengan spirit diplomasi Indonesia dengan Italia yang memasuki usia ke-70 tahun.

“Paviliun Indonesia ini tidak hanya hadir sebagai ekspresi untuk membicarakan respons terhadap keadaan di masyarakat, melainkan sebuah ruang dialog antarbangsa di tengah kondisi global saat ini,” tutur Triawan.

Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2019 ini diselenggarakan oleh Bekraf bersama Yayasan Design+Art Indonesia. Kabar terbaru dari Venice Biennale 2019, Italia, bisa diikuti melalui kanal media sosial @bekrafID dan @lostverses2019 atau dengan tagar #LostVerses dan #VeniceBiennale2019. 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU