© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Impian Rukun di Mata Seorang Jenderal Pelukis

26 May 2019

Konstelasi politik Indonesia hampir saja membawa bangsa ini pada jurang kehancuran. Tragedi kemanusiaan yang 21 tahun lalu pernah kita rasakan hampir terulang hanya lantaran kepentingan politik. Hal itu seperti muara dari ujung perdebatan sengit di jagat maya yang dibarengi dengan banjirnya berita bohong.

Sentimen negatif yang menyangkut SARA pun seakan tak bisa dihindari. Namun, impian menjadi bangsa yang maju, adil, dan rukun tidak pernah berhenti. Setidaknya bagi seorang jenderal polisi yang juga lihai dalam melukis. Namanya Chryshnanda Dwilaksana, seorang perwira berpangkat Brigadir Jenderal. Pria berusia 51 tahun itu pun mengekspresikan kegelisahannya dengan menggores kuas di atas kanvas.

Dalam pameran tunggal di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki bertajuk, Rukun: Rukun Agawe Santoso, Chryshnanda menampilkan sekaligus dua panggilannya; Polisi dan Seniman. 

Sebagai seorang polisi, Chryshnanda sudah pasti menginginkan masyarakat Tanah Air hidup rukun, tenteram dan damai.

Namun, situasinya saat ini justru menjurus pada kondisi sebaliknya. Dia melihat adanya bahaya tersembunyi yang berpotensi kerusuhan. Situasi yang sangat membahayakan masyarakat. Chryshnanda pun mengekspresikan suatu kondisi seperti yang ditulis Plato dalam bukunya The Republik melalui lukisan-lukisannya.

“Apa yang saya lukis sebagai ungkapan situasi dan kondisi masyarakat yang terus diembusi kebohongan diacak-acak emosi bahkan jiwanya hingga tidak tahu lagi mana benar, mana salah,” ucap Chryshnanda. 

Dia mencoba menyelaraskan ide-idenya tentang masyarakat, sejalan dengan pemikiran Plato dalam bukunya The Republik, masyarakat diibaratkan sebagai big animal and beast. Lebih lanjut, Plato dalam buku tersebut menguraikan, masyarakat diibaratkan sebagai binatang besar, buas dan liar, serta memiliki kegemaran makan, minum dan seks. Binatang buas ini hanya bisa dikendalikan oleh kaum sofis atau kaum politisi.

Mereka tahu bagaimana cara mengendalikan, memberi kesukaan, hingga kapan harus mengalah saat binatang tersebut mengamuk. Mereka juga bisa mengancam dan menakut-nakuti binatang buas tersebut. “Hal tersebut merupakan gambaran tentang masyarakat yang bisa dikendalikan oleh sekelompok orang,” ungkap Chryshnanda. 

Dalam pameran Rukun ini, Chryshnanda pun memperlihatkan sebanyak 127 lukisannya, dengan 29 lukisan berukuran besar dan 98 lukisan kecil yang dipajang untuk publik hingga 29 Mei mendatang. Seniman lukis yang juga sang kurator, Joko Kisworo mengakui bahwa pameran ini dipersiapkan secara singkat, hanya sekitar 2,5 hari untuk pelaksanaannya.

Menurut Joko Kisworo, sebagai seorang polisi, Chryshnanda bisa dibilang sebagai pelukis yang sangat produktif. “Terdapat 720 karya, cukup banyak, (bahkan) banyak sekali karyanya Pak Chryshnanda ini. Cukup memusingkan kepala. Untuk pameran ini, Pak Chryshnanda mengangkat tema rukun, menyesuaikan kondisi saat ini,” tutur Joko Kisworo. 

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU