© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Jalan Tengah di Antara Seniman dan Birokrasi

25 Jun 2019

Menjadi pengajar sekaligus seniman bukanlah hal yang mudah. Seni yang identik dengan “kebebasan” kadang dianggap bertentangan dengan pekerjaan dosen atau pengajar yang penuh dengan birokrasi. Namun bagi Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Seno Gumira Ajidarma antara seni dan birokrasi sama pentingnya. Bahkan keduanya bisa saling menginspirasi.

“Seniman jangan alergi pada apapun. Ya politik, ekonomi, birokrasi, dagang, agama. Jangan Alergi. Jadi imej seniman yang bebas merdeka itu sudah lewat. Kesenian merupakan bidang kerja yang sama seriusnya dengan bidang lain, termasuk birokrasi,” jelas Seno saat membuka pameran Seniman Pengajar Menjelajah Karya di Dalam dan di Luar Birokrasi di Galeri Cipta II dan III, Taman Ismail Marzuki. 

Pameran tersebut diikuti 48 dosen Fakultas Seni Rupa IKJ. Seniman pengajar pada pameran ini berasal dari latar jurusan seni rupa yang beragam: Seni Murni, Kriya, Desain Mode, Desain Interior dan Desain Komunikasi Visual. Para seniman menggunakan ragam media dan tema berkarya yang beragam sesuai dengan bidang masing-masing.

Melalui pameran ini, Seno mengajak seluruh pengajar atau dosen IKJ tetap kreatif dan jangan sampai "tertelan" birokrasi itu. “Kira-kira pernyataannya; kami masih seniman loh,” jelasnya.

Pameran ini juga sekaligus menjadi ajang pembuktian dosen pengajar IKJ tidak hanya memiliki kompetensi pengajar secara akademis namun juga merupakan 'seniman' tulen yang mampu melahirkan ragam kreasi seni berkualitas. “Bukan hanya dari segi birokrasi tapi juga kemampuan yang paling penting. Ya, seni itu. Buat apa (pengajar) doktor tapi tidak bisa gambar,” tegasnya. 

Masuk era digital yang didominasi generasi milenial, Dekan Fakultas Seni Rupa IKJ Indah Tjahjawulan menyampaikan IKJ juga melakukan transformasi dan beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Menurutnya seni rupa murni dulu hanya bagi patung atau lukis saja. Sekarang semua harus dipelajari dan bahkan sekarang banyak dari mahasiswa yang mempelajari video art.

“Para dosen juga turut mengikuti perkembangan yang ada. Tantangannya bagaimana kita menemukan bahasa yang sesuai dengan generasi mereka,” ujarnya. 

Hal senada disampaikan Beng Rahadian, Dosen Desain Komunikasi Visual, “Ini menjadi kanal lain bagi para pengajar untuk berkarya. Ketika di galeri (pameran), batas antara dosen dan mahasiswa sudah hilang. Tidak ada batas akademis. Mereka (mahasiswa) melihat kita (dosen) sebagai seniman yang berkarya.”

Sementara itu, Iwan Gunawan, Dosen Pascasarjana IKJ melihat pameran dosen IKJ menjadi penting sebagai sebuah ajang refreshing dosen untuk berkarya. Menurutnya di sini para pengajar dipaksa melihat masalah sosial dan berkarya.

“Karya bagus kalau tidak terdistribusikan tidak ada gunanya. Birokrasi ini menjadi salah satu cara si seniman ini paham peta masalah. Dia punya karya, karyanya mau diapakan. Jadi sedikit banyak (seniman) harus tahu (birokrasi),” tutup Iwan. 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU