© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Mengulik Sejarah Relasi Seni dan Perdagangan di Nusantara

8 Jul 2019

Study with the Master, atau Berguru pada Master cukup menyita waktu Priyaris Arismundar, seorang perupa yang pada akhir Juni lalu melakukan pameran tunggalnya. Di Galeri Nasional, Jakarta, Priyaris mencoba untuk mengulik kembali jejak peradaban nusantara yang menurutnya terpadu bersama budaya dari berbagai peradaban di penjuru dunia.

Seperti biasa, Priyaris menyuguhkan beragam karya dengan gaya dan tekniknya yang khas, Membentuk-Merusak-Menghias (3M). Membentuk oleh Priyaris dirujukan pada Dewa Brahma, Merusak merujuk pada Dewa Siwa dan Menghias merujuk pada Dewa Wisnu. Ketiga Dewa ini yang kemudian dijadikan metode pria lulusan ISI Yogyakarta itu dalam melukis.

Bahkan, untuk merusak hasil karyanya, Priyaris mengatakan perlu mendapat inspirasi sebelum akhirnya menuangkan air ke atas kanvas yang telah dilukisnya dengan bahan cat akrilik. Study with the Master adalah salah satunya yang tentu dapat Anda saksikan di Galeri Nasional. 

Priyaris memiliki misi dalam pameran tunggalnya ini yakni konektivitas dalam arti memunculkan inspirasi karya seni dari hasil hubungan dagang yang terjadi dalam sejarah nusantara. Pun sebaliknya, di masa tersebut karya seni rupa ikut andil dalam memperat konektivitas antara peradaban.

Tak salah bila Priyaris memberi tajuk, Napak Tilas Peradaban di pameran tunggalnya tersebut. Menurutnya, nusantara saat itu sangat beruntung karena mendapat pengaruh dari empat rute besar perdagangan-kebudayaan, yaitu kebudayaan Barat, kebudayaan Tiongkok, kebudayaan Hindu (India), dan kebudayaan Islam. 

Semua kebudayaan itu saling memperkaya kebudayaan Indonesia. Spirit itulah yang coba digambarkan Priyaris melalui pameran tunggalnya ini. “Saya melakukan petualangan imajinasi, tidak semua ada di buku, imajinasi untuk merasakan bentuk, susunan. Saya berusaha menghadirkan visualisasi,” katanya saat pembukaan pameran.

Sebagai seorang perupa, Priyaris banyak terinspirasi oleh gambar atau artefak asli yang dibawa oleh misionaris dan pengembara, termasuk menonton film-film sejarah dokumenter dan membaca buku-buku untuk menjadi sumber inspirasinya, yang kemudian dicoba dituangkan dalam bentuk karya visual dua dimensi. 

Ia membagi pameran ini menjadi tujuh rute, yaitu Jalur Teh-Kuda Kuno, Jalur Sutera, Jalur Raya Pos, Jalur Dupa, Seri Tokaido, Jalur Rempah, dan rute lainnya garan, timah, Trans Sahara, Amber. Di setiap rute penikmat seni bisa memperoleh gambaran jelas tentang bagaimana rasa Priyaris dalam menyampaikan peristiwa, ditambah lagi dengan adanya artefak-artefak yang terletak di bagian tengah ruang pameran.

Pameran tunggal ini merupakan hasil kerja sama Sarasvati Art Communication & Publication, Galeri Nasional Indonesia-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Studio Lir Ilir 234, dan PT. Pos Indonesia. Hingga 15 Juli mendatang terdapat 35 karya Priyaris yang akan dipamerkan untuk publik. 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU