© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Alunan Musik Simple A la Duo Musisi Belanda

9 Jul 2019

Akhirnya setelah ditunggu hampir dua pekan sejak kedatangannya ke Indonesia, duo musisi asal Belanda, Marnix Dorrestein (gitar/vokal) dan Willem Wits (drum/vokal) yang tergabung dalam grup Ciao Lucifer mampir juga di Jakarta. Pada Sabtu akhir pekan lalu, penampilan mereka di panggung Erasmus Huis, Jakarta menjadi penutup rangkaian tur keliling tiga kota Indonesia; Yogyakarta, Solo, dan Jakarta.

Salah satu hits yang dibawakan adalah Pay Back What You Owe. Aransemen musik yang dibawakan membuat setiap orang yang mendengarkannya serasa ingin bergoyang mengikuti irama. Ya, meski sedikit eksperimental, musik Ciao Lucifer sepertinya bisa dinikmati kalangan manapun bahkan mereka yang belum mengenalnya. 

Tahun ini bisa dibilang Marnix dan Willem kembali pada gaya bermusik awal mereka, gitar dan drum setelah bertahun-tahun bereksperimen dengan metode musik yang rumit. Set intrument sederhana ini menampilkan pertunjukan mereka yang liar, dan energi yang murni. Apa yang dilihat, itulah yang didapat, tanpa disadari, lagu pop sederhana ini membuat anda menari. 


Terlepas dari Ciao Lucifer, kedua anggota memiliki rekam jejak yang luas. Marnix memiliki gelar sarjana dan master dari Departemen Musik Pop dari Conservatory of Amsterdam. Pencapaiannya meliputi rekor emas untuk memproduksi dan menulis bersama album 'Kersvers' dari Herman van Veen dan penghargaan Edison untuk adaptasi modern musik abad ke-17 untuk album 'Hush' dengan mezzo-soprano Nora Fischer. 

Sedangkan Willem menyutradarai dan menulis untuk film dan teater. Pada 2012, ia lulus dari jurusan seni multidisiplin di Royal Arts Academy / Royal Conservatory di The Hague dan Leiden University. Film debutnya, Dertig Meter, memenangkan kategori Film Pendek Belanda Terbaik di Festival Film Internasional Amsterdam.

Terbentuknya duo ini berawal dari persahabatan antara dua pemuda. Keduanya merupakan teman sekolah yang melihat musik sebagai sebuah kesempatan untuk berpergian. Ciao Lucifer menyeleksi lagu-lagu mereka dengan bantuan seorang kawan perempuan yang senang menari. Mereka tak akan memakai lagu tersebut jika lagunya tidak disukai oleh teman-teman mereka. 

Please reload

Membongkar Dapur Penonton di Festival Teater Jakarta 2019

Membumikan Kembali Tradisi Ulos Batak

Membaca Ulang Karya Lawas Seniman Jakarta

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU