© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Merasakan Karya Carventes dalam Lakon Wayang Den Kisot

17 Jul 2019

Kedutaan Besar Spanyol akhir pekan kemarin menggelar Festival Don Quijote di Jakarta. Perayaan itu untuk mengenang novel besar dari abad ke-17, Don Quijote. Kebetulan, novel karya Miguel de Carventes itu baru saja dialihbahasakan ke bahasa Indonesia dan diluncurkan kemarin.

Pada peluncuran tersebut turut dipentaskan sebuah teater boneka Den Kisot yang ceritanya mengadaptasi novel Don Quijote. Bedanya, lakonnya diberi karakter yang lebih dekat dengan kultur Indonesia. Alur cerita novel yang kompleks diakui sutradara dan penulis naskah Endo Suanda, tidak dimasukkan ke dalam cerita. 

“Don Kisot atau Den Kisot ini orang yang suka berkhayal namun isinya kami bikin sangat meng-Indonesia. Tidak bisa kamu ambil dari cerita aslinya, alurnya terlalu kompleks. Kita sederhanakan agar tidak terlalu berbelit-belit,” ujarnya.

Lewat Den Kisot, Endo sepertinya berhasil melahirkan genre baru di dunia seni pertunjukan. Ia tidak mau menampilkan wayang golek dengan cerita Don Quijote tapi membuat genre baru yaitu teater boneka dengan material wayang golek. Boneka kayu yang dipesan khusus dari Indramayu itu membuat karakter-karakter dalam pertunjukan tampak berbeda. Ada karakter Alonso alias Don Kisot alias Den Kisot dari Tanah Pasundan, Sanco, Pak Lurah, pendeta, keponakan hingga Dulcenia yang juga ada di dalam novel. 

Dari sisi musik, Endo dan timnya juga membuat gaya baru. Pentas teater bonekanya tak hanya berbalut boneka kayu saja, ada unsur kontemporer di dalamnya yakni permainan gitar, biola, dan alat musik lainnya. “Dari musiknya, kita juga menumbuhkan gaya tembang dalang, gaya suaranya dalang yang baik. Yang main semuanya kuat, nyanyian dalang juga ada 'suluh'. Itu gagasan dasarnya. Den Kisot menjadi menarik karena ada genre baru dan hal-hal baru di dalam wayang tradisi golek,” pungkasnya.

Dalam lakon, Don Quijote atau Don Kisot atau panggilan Den Kisot dari tanah Sunda akan pergi berperang melawan kebathilan dan hoax. Ia dianggap gila karena terlalu banyak membaca novel-novel fantasi. Kabar itu tersiar. Pendeta marah dan segera mengecek rumah Den Kisot. “Buku-buku ini harus segera dibakar,” ujar pendeta tersebut. 

Pembakaran buku-buku fantasi itu membuat Den Kisot makin berang. Ia yang gemar mengkhayal dianggap gila oleh warga di kampungnya. Sementara itu, ia bertemu dengan Sancho dan mengajak untuk pergi ke Spanyol. Di Spanyol, Den Kisot kembali dianggap gila. Dia merasa melihat perempuan cantik yang bernama Dulcenia dan berniat naik ke atas langit dengan kuda putihnya.

Guyonan segar khas Indonesia pun terasa dalam pertunjukan. Ada guyonan soal es, Siti Badriah hingga isu pembakaran buku yang juga pernah terjadi di Indonesia. Selama 90 menit, penonton berdecak kagum dengan guyonan dalam lakon, akting narator dan dalang yang terasa menyatu hingga unsur kontemporer di musim dan pemanggungan.     

Please reload

Ratapan Melanesia tentang Lingkungan yang Rusak

Excursio, Sebuah Perjalanan Artistik Para Seniman

Kreasi Visual yang Merayakan Keberagaman

Menyoal Pengalaman Integrasi Seniman di Negeri Orang

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU