© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Salam Perpisahan Nan Elegan dari Perupa Amrus Natalsya

17 Jul 2019

Konsistensi, kesetiaan, dan cinta yang besar. Mungkin tiga kata itulah yang layak disematkan pada perupa senior, Amrus Natalsya. Selama lebih dari enam puluh tahun bergelut di dunia seni rupa, beragam karya lukis dan patung telah tercipta dari tangannya. Patung berjudul Orang Buta yang Terlupakan dibeli Presiden Sukarno pada 1955.

Sang proklamator juga mengoleksi karya Amrus lain seperti Kawan-kawanku yang dipamerkan pada pameran Lustrum Pertama Asri di Sono Budoyo, Yogyakarta. Sejak saat itu karya Amrus kemudian sering ditampilkan dalam berbagai pameran, seperti: Pameran tunggal di Taman Merdeka Utara, Jakarta (1955); Pameran Lukisan di Wina, Austria (1955). 

Pameran "Konferensi Asia Afrika" di Bandung (1955); Pameran Bersama mahasiswa ASRI (1961-1963); Pameran Tunggal di Galeri Lontar, Jakarta (1995); karya terbaik dalam Pameran Patung Kontemporer "Trienale Jakarta II" (1998); Pameran "Kepedulian Sesama Pelukis" di Galeri 678, Jakarta (2000); dan Pameran Tunggal “Kampung dan Metropolitan” di Galeri 678, Jakarta.

Di akhir 90-an, dia pernah menggemparkan dunia seni rupa Indonesia dengan karya fenomenalnya yang berjudul Pecinan, dalam bentuk cukil kayu, yang menjadi ciri khasnya. Kurator pameran Mahardika Yudha mengatakan proyek seni kehidupan masyarakat di pecinan adalah salah satu fitur dari Amrus Natalsya yang dikembangkan sejak reformasi 1998. Tema ini dipilih sebagai bentuk empatinya pada situasi masyarakat indonesia ketika terjadi peristiwa Mei 1998. 

Perjalanan panjang di dunia seni rupa telah ia lalui. Amrus ingin mengakhirinya dengan sebuah perpisahan yang elegan dengan menghelat pameran tunggal terakhirnya bertajuk, Terakhir, Selamat Tinggal dan Terima Kasih. Pameran ini merupakan hasil kerja sama dengan Taman Ismail Marzuki dan Etty Mustafa Art Collection yang bertempat di Galeri cipta II Taman Ismail Marzuki pada hingga 23 Juli mendatang.

Etty Mustafa mengungkapkan pameran ini dibuat untuk terakhir kali nya oleh sang perupa beraliran revolusionary realism ini mengingat umurnya yang tidak lagi muda. ”Di dalam pameran ini Amrus Natalsya akan menampilkan sekitar 50 karya-karyanya yang banyak mengangkat tema sosial seperti lukisan kanvas dan lukisan pahat bertema pasar, Pecinan dan patung kapal Nuh,” ujar Etty. 

Pada pameran tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh tokoh Sanggar bumi Tarung seperti Amrus Natalsya dan Misbach Thamrin. Sementara itu, salah satu kurator seni Indonesia Agus Dermawan mengatakan lukisan kayu Amrus merasa menghasilkan karya yang berciri khas pribadi. Dengan lukisan Amrus berhasil menemukan jejak-jejak traditionalitas.

”Pameran tunggal ini adalah bukti keberadaan (eksistensi) Sanggar Bumi tarung dalam sejarah seni rupa indonesia sejak 58 tahun yang silam. Ketika pendirinya Amrus Natalsya berumur 28 tahun saat itu,” ungkap Agus.

Amrus Natalsya lahir pada 21 Oktober 1993, di Medan, Sumatera Utara. Putera dari pasangan Rustam Syah Alam dan Aminah, ini sejak kecil, sudah menunjukkan bakat seninya. Pada 1954, ia memulai pendidikan seni di ASRI Jogjakarta. Sejak saat itu Amrus mulai menghasilkan karya berupa patung dan lukisan. Amrus juga dikenal sering mengangkat tema sosial dan kesulitan yang dihadapi manusia sehari-hari dalam karyanya.     

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU