© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Kemakmuran Negeri di Mata Perupa Gigih Wiyono

24 Jul 2019

Jika pekan ini Anda berkunjung ke galeri Bentara Budaya Jakarta, sebuah patung akan terlihat kokoh berdiri di ruangan itu. Di antaranya buah keben atau yang bernama lain Butun khas tanaman tropis mengelilingi patung tersebut. Ia adaah salah satu karya milik perupa Gigih Wiyono yang menggelar pameran tunggalnya bertajuk Subur Makmur.

Ya, pameran ini memberi kesan bahwa Gigih sangat mempercayai negeri yang ia tinggali sebagai titisan surga. Negeri di mana tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman. Lewat karya-karyanya ini Gigih ingin mengangkat kesuburan Indonesia. Sebut saja karya lukisnya dari cat akrilik yang berjudul Berkah Berlimpah II yang dihasilkannya pada 2016.

Lulusan Institut Seni Indonesia itu menjelaskan makna di balik karya lukis Berkah Berlimpah II. Baginya Indonesia memiliki tanah yang subur sehingga tumbuhan apapun dapat tumbuh diatasnya, berbeda dengan tanah di negara lain. “Apapun yang dilemparkan itu bisa tumbuh. Anda lemparkan jagung, ya akan tumbuh jagung,” ujar Gigih. 

Secara garis besar, pameran Subur Makmur menurutnya merupakan konsep kearifan lokal. Indonesia sudah diberikan kesuburan tanah oleh Tuhan yang dapat menumbuhkan kemakmuran jika dikelola dengan baik. Tanpa kearifan lokal tersebut, dia menegaskan, keadilan tidak akan tercapai.

Dan kearifan lokal benar-benar ditekankan Gigih dalam karya lukisnya. Gigih ingin mewakili identitas sebagai orang Jawa dan menjadi representasi wilayah timur di kancah internasional. “Itu icon yang saya rekonstruksi dari peradaban yang saya alami,” kata Gigih.

Sementara itu tentang Keben atau Butun yang ia pilih sebagai salah satu obyek seninya, Gigih memang punya kesan spesial terhadap tumbuhan ini. Dia menjelaskan bahwa di bawah pohon keben, Sultan Yogyakarta terdahulu, merenung untuk mendapat kebenaran. Banyak orang Jawa terutama di wilayah Yogyakarta menyebutnya “pohon kedamaian”. 

Uniknya, para pengunjung yang datang ke pameran ini akan mendapat bingkisan berisi biji dari pohon keben, padi dan daun salam. Gigih berharap pengunjung tidak hanya menikmati karyanya, tetapi juga bisa menanam buah keben.

Keteguhan Gigih untuk mengangkat budaya agraris lewat karya-karyanya diakui oleh kurator Bentara Budaya Jakarta Efix Mulyadi. Menurutnya, meski terkesan lelah menghadapi kemajuan, Gigih mencoba untuk terus menghidupkan kecintaannya terhadap budaya agraris.

“Semangat kebaruan dihidupinya dengan memberi konteks jejak dari tradisi agraris yang digali dan dirawatnya,” kata Felix.     

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU