© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Merayakan Jejak Kegagalan Sebuah Karya Seni

10 Aug 2019

Sejak pertengah bulan Juli lalu hingga pertengahan Agustus mendatang, galeri seni Dia.Lo.Gue diwarnai jejak-jejak karya abstrak milik tiga perupa; Naomi Samara, Salvita Decorte, dan Ruth Marbun. Visual yang mereka hasilkan memiliki keterikatan satu dengan yang lain meskipun pesan dalam karya berbeda-beda.

Keterikatan itu terangkum dalam terminologi Pentimento yang berarti perubahan dalam karya seni dengan pembuktian rekam jejak. Ia juga menjadi tajuk dalam pameran bersama tersebut, Pentimento: A Speculative Trace. Lalu apa sebenarnya maksud pemilihan terminologi itu? 

Seorang seniman membutuhkan banyak trial and error ketika memproduksi sebuah karya. Untuk mengkonsepkan sebuah karya dengan makna kuat, seberapa hebat pun seorang seniman, tidak luput dari kegagalan dalam langkah awalnya. Nah, di sinilah konsep Pentimento ditekankan.

“Melalui pameran ini pengunjung diajak melihat dan memahami bagaimana tiga seniman perempuan menyelesaikan sisa-sisa kegagalan karya mereka yang justru untuk ditunjukkan menjadi hal artistik,” kata Sally Texania yang menjadi kurator pameran. 

Menurutnya, ada tantangan bagi penikmat seni untuk menyusuri cerita dari masing-masing seniman yang tertuang dalam goresan kuas mereka. Coba saja lihat karya Naomi Samara yang tertempel di sepanjang tembok putih dengan gambar yang dibingkai putih. Ada 40 lukisan yang didominasi gambar lekukan tubuh dengan mengedepankan warna monokrom.

Dari runtutan gambar tersebut, jika diperhatikan satu per satu akan membawa kita pada sebuah narasi yang diekspresikan Naomi melalui media lukisan. Dengan keyakinannya, Naomi percaya bahwa tubuh manusia merupakan sarana terkuat untuk mengeksplorasi perasaan dan pikiran. 

Lagi lagi dengan karya Ruth Marbun. Ia berusaha memaksimalkan penyelesaian karyanya menggunakan bahan tekstil. Sebuah kolaborasi antara teknik melukis dengan cat air yang kemudian dipadupadankan dengan teknik bordir dan menambah lapisan-lapisan kain berposisi abstrak guna menguatkan emosi yang disampaikannya.

Instalasi miliknya pun diperkuat dengan warna merah dan putih. Warna merah ini menjadi sebuah daya tarik atas pelampiasannya yang dituangkan melalui kain merah dan dalam cipratan darah. Lapisan tekstil ini menjembatani proses pemikiran Ruth Marbun dalam sebuah karya. 

Begitu pula dengan karya dari Salvita Decorte. Menjadi sebuah daya tarik dalam instalasi miliknya adalah sebuah kemeja yang menggantung dengan lukisan corak abstrak yang membuat para pengunjung akan menggali pesan tersembunyi di dalamnya. Ia lebih fokus pada gambar wajah dan keberadaan tubuh dengan kombinasi warna yang lebih variatif.

Singkatnya, pameran ini ingin merayakan bagian dari sebuah perjalanan karya, di mana akan menjadi sebuah kegagalan menuju keberhasilan. Seluruh proses eksplorasi pikiran dan perasaan nyatanya juga dapat dinikmati dalam karya dan dibagikan kepada banyak orang. Bagi yang penasaran, Anda masih bisa menikmati pameran ini hingga 19 Agustus mendatang!      

Please reload

Refleksi Pribadi di Ruang Publik

Di Balik Layar dan Waktu Dua Dekade Karya Andramatin

Kolaborasi Visual Batin dan Kasat Mata

Apresiasi Karya Tiga Arsitek Lokal di Le Chateau x Brizo

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU