© 2016 Yayasan Design+Art Indonesia

SATULINGKAR.COM

DESAIN  |   SENI   |   BUDAYA

grandkemang Hotel lantai 3

Jl. Kemang Raya 2H, Jakarta 12730

Email: redaksi@satulingkar.com

  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Instagram Icon

Kopi Susu, Potret Kegelisahan Keluarga Indo-Belanda

13 Aug 2019

Lenneke Mullenders pernah berada di gerbang tua di kawasan Cideng itu pada masa kolonial Belanda. Saat itu memang merupakan hari-hari terakhir keluarga Belanda menghabiskan waktu di Jakarta sebelum masa Perang Dunia II berakhir. Lenneke hidup dan besar di keluarga Belanda meski ia memiliki darah Indonesia dalam tubuhnya.

Lenneke kemudian memutuskan pulang ke Belanda bersama suaminya dengan menumpang kapal dari Tanjung Priok. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1959, ia melahirkan seorang putri yang dinamai Rosa Verhoeve yang kelak menjadi seorang seniman dan fotografer besar Belanda. Verhoeve tahu bahwa ia memiliki darah campuran, namun sedikit info yang bisa ia dapat dari ibunya tentang apa dan siapa itu Indonesia.

Di usia 50an tahun, Verhoeve mencoba kembali ke negeri leluhurnya. Berbekal kamera miliknya dan sedikit informasi dari keluarga dekat, Verhoeve mulai menapaki sejarah keluarganya ketika masih mendiami Nusantara. Gerbang tua di kawasan Cideng jadi salah satu bagian yang ia potret. 

Lalu ada gambar salib, yang diambil di Tanah Abang, tempat istri pertama ayah Verhoeve, Emilie dimakamkan. Emilie, yang meninggal saat melahirkan pada tahun 1947, juga merupakan saudara perempuan Lenneke. Bukan hanya di Jakarta, Verhoeve menyusuri jejak keluarganya hingga ke Surakarta.

Di sanalah ia menemukan istilah menarik yang ia jadikan sebagai tajuk buku fotografinya, Kopi Susu. Berbeda dengan minuman es yang tampaknya sangat dinikmati warga Jakarta akhir-akhir ini, kopi susu di sini merujuk pada istilah untuk orang Indo (campuran), istilah yang Verhoeve dengar dari seorang wanita Jawa saat perjalanan naik bus.

Pertanyaanya, mengapa Verhoeve begitu tertarik dengan silsilah leluhurnya? Ini persoalan identitas. Bagi seseorang berdarah campuran sepertinya, berjuang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya adalah hal yang serius. 

Verhoeve meninggal pada Juni 2018 karena kanker usus besar. Namun sebelum kepergiannya, ia sempat menerbitkan buku fotografi dan pameran dengan judul yang sama di Museum Bronbeel di Arnhem, Belanda. Seperti sudah ditakdirkan, foto-fotonya akhirnya sampai ke Jakarta dan dipamerkan di pusat kebudayaan Belanda Erasmus Huis hingga 24 Agustus mendatang dengan tajuk Kopi Susu.

Pameran ini menampilkan sekitar 39 foto - koleksi gambar yang diambil di Indonesia dan Belanda yang mewakili identitas ganda Verhoeve dan perjuangannya dalam menemukan penerimaan dan kesesuaian. Jan Banning, kurator pameran yang ikut menemani Verhoeve selama di Indonesia mengatakan bahwa identitas Indo adalah masalah “gelap” bagi Verhoeve.

“Ibunya, Lenneke Mullenders, adalah seorang Indo. Dia tidak pernah ingin membahas masa lalunya di era kolonial Indonesia, jadi Verhoeve tahu dia juga orang Indo tetapi dia tidak tahu tentang asal-usulnya, ”jelas Banning. 

Pameran ini dimaksudkan untuk mewakili identitas Indo secara visual. Foto-foto itu sendiri bervariasi dalam subjek, dari pemandangan Indonesia yang indah dan pemandangan rumah biasa hingga sejarah keluarga. Menurut Banning selama berburu gambar di Indonesia, ia mengunjungi lokasi yang relevan dengan sejarah keluarganya.

“Tapi itu tidak dimaksudkan untuk fotografi dokumenter. Dia mencoba untuk menyusun kisah pribadi melalui realitas objektif, dia mencoba membangun sejarah subjektif, ” kata Banning

Sepanjang pameran, hanya ada satu wajah yang ditampilkan dalam foto; satu lagi hanyalah foto dari sebuah foto. Menurut Banning cara ini akan membuat pengunjung untuk mengidentifikasi diri mereka dengan lebih baik dalam subjek.

Foto-foto itu tidak disertai keterangan atau bahkan judul dan memungkinkan Anda untuk berspekulasi tentang arti foto tersebut. Foto seorang gadis muda misalnya, dapat dimaknai seperti apa yang akan dilakukan Verhoeve seandainya orang tuanya tinggal di Indonesia. Foto lain, seekor kura-kura yang mungkin mati bertengger di dahan pohon, dapat ditafsirkan sebagai perasaan keterasingan pada suatu lingkungan.     

Please reload

Memandang Mitos Lewat Dua Perupa Lintas Generasi

Rayakan Keragaman Seni Rupa dalam In-Art Festival 2019

Lima Jalan Seniman Kontemporer Merespons Keresahan Publik

Merayakan Satu Dekade Batik di Pentas Dunia

1/1
Please reload

ARTIKEL TERBARU